Home Berita Internasional Israel yang Pernah Memilih Damai

Israel yang Pernah Memilih Damai

Sumbawanews.com,- Pada 13 September 1993, di halaman Gedung Putih, dunia berhenti sejenak. Di hadapan 3.000 tamu dan kamera global, Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin dan pemimpin Palestina Yasser Arafat berjabat tangan—sebuah gerak yang tak hanya simbolis, tapi nyaris ajaib. Di tengah dekade konflik berdarah, mereka menandatangani Perjanjian Oslo I, sebuah janji bersama untuk mengakhiri siklus kekerasan dan membuka jalan bagi negara Palestina yang merdeka, berdampingan dengan Israel.

Rabin, seorang jenderal yang pernah memimpin pasukan dalam Perang Enam Hari 1967, berbicara dengan suara bergetar: “Cukup sudah darah dan air mata.” Arafat, yang selama puluhan tahun dianggap teroris oleh banyak pihak, menjawab: “Kami memilih keberanian, bukan kebencian.” Menteri Luar Negeri Israel Shimon Peres dan wakil Palestina menandatangani dokumennya, tapi jiwa perjanjian itu lahir dari tekad dua pemimpin yang rela mengorbankan reputasi mereka demi perdamaian.

Perjanjian itu memang belum sempurna. Oslo II pada 1995 memperdalam kerangka otonomi Palestina di Tepi Barat dan Gaza, menetapkan pembagian wilayah, pembentukan otoritas sipil, dan jadwal penarikan pasukan Israel. Tapi impian itu terhenti sebelum sempat tumbuh. Pada 4 November 1995, hanya dua bulan setelah Oslo II ditandatangani, Rabin ditembak mati oleh Yigal Amir, seorang mahasiswa Yahudi radikal yang menganggap perjanjian itu pengkhianatan terhadap Tanah Israel. Ia tewas di Rabin Square—dulu bernama Kings of Israel Square—dengan darahnya menggenang di atas batu yang kini menjadi monumen perdamaian.

Kematian Rabin bukan sekadar kehilangan seorang pemimpin. Ia adalah titik balik sejarah. Penggantinya, Benjamin Netanyahu, yang memenangkan pemilu tahun berikutnya, adalah politisi sayap kanan yang secara terbuka menolak prinsip-prinsip Oslo. Di bawah kepemimpinannya, pembangunan permukiman Yahudi di Tepi Barat meledak, kontrol militer atas wilayah Palestina diperketat, dan proses perdamaian yang sudah rapuh pun runtuh perlahan.

Kini, lebih dari tiga dekade setelah jabat tangan bersejarah itu, ideologi yang sama yang membunuh Rabin kembali bangkit. Bezalel Smotrich, Menteri Keuangan Israel sekaligus tokoh sayap kanan ekstrem yang memegang otoritas de facto di Kementerian Pertahanan, baru-baru ini menyerukan pembatalan total Perjanjian Oslo. Dalam wawancara podcast, ia menyebut gagasan negara Palestina sebagai “mimpi buruk” yang akan menciptakan “Gaza dalam skala dua puluh kali lipat” di jantung Israel. Ia menegaskan: “Saya memimpin misi untuk membunuh gagasan itu.”

Tak ada yang mengatakan perang akan berakhir—tapi yang jelas, impian yang pernah dipegang teguh oleh seorang jenderal yang lelah berperang, kini dianggap sebagai ancaman oleh para penerusnya. Dan di tengah keheningan yang semakin berat, dunia masih menunggu: apakah Israel akan kembali memilih damai, atau terus memilih kehancuran yang lebih dalam?

Previous articleRatusan Drone Ukraina Serang Rusia Saat SPIEF 2026, Satu Tewas
Next articlePrabowo Atur Ekspor SDA Lewat BUMN Tunggal
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.