Sumbawanews.com,- Jakarta – Setidaknya 31 orang tewas dalam serangan udara Israel yang meluas di selatan Lebanon, menyusul eskalasi kekerasan yang memperdalam krisis di perbatasan kedua negara. Militer Israel mengaku sedang memperkuat operasinya melawan kelompok Hezbollah, yang baru saja melancarkan serangkaian serangan drone mematikan terhadap pasukan Israel di wilayah utara.
Serangan udara Israel, yang berlangsung sepanjang hari, menghantam desa-desa, jalan-jalan, dan bangunan sipil di provinsi Qana, Marjayoun, dan Tyre. Korban tewas mencakup warga sipil—termasuk perempuan dan anak-anak—yang sedang berada di rumah atau di jalan saat bom jatuh. Pihak berwenang Lebanon melaporkan puluhan lainnya terluka, sebagian besar dalam kondisi kritis.
Di sisi lain, Hezbollah mengklaim telah meluncurkan lebih dari 20 drone tempur yang menargetkan posisi militer Israel di Galilea Utara, merusak peralatan dan memaksa evakuasi sejumlah basis. Kelompok ini menegaskan serangan itu sebagai balasan atas “agresi berkelanjutan” Israel terhadap warga Lebanon.
Pertempuran yang memanas dalam beberapa hari terakhir telah memicu kepanikan massal di wilayah perbatasan. Ribuan warga Lebanon mengungsi ke kota-kota lebih dalam, sementara penduduk Israel di utara terus diminta tetap berada di tempat perlindungan. PBB memperingatkan bahwa konflik ini berpotensi meledak menjadi perang regional, dengan risiko kemanusiaan yang semakin memburuk.
Meski AS dan sejumlah negara Eropa menyerukan gencatan senjata segera, kedua belah pihak tampak tak berniat mundur. Israel menegaskan tujuannya adalah “menghancurkan kemampuan tempur Hezbollah,” sementara Hezbollah berjanji akan membalas setiap serangan dengan “kekuatan yang tak terduga.”
Dengan kekerasan yang terus berlanjut, dunia menanti apakah diplomasi akan mampu menghentikan siklus balas dendam yang kian menggila—atau apakah kawasan ini akan terperosok lebih dalam ke dalam kegelapan perang.















