Sumbawanews.com,- Setelah negosiasi intensif yang berlangsung selama beberapa hari di bawah pengawasan internasional, Israel dan Hizbullah sepakat memperpanjang gencatan senjata di perbatasan Lebanon-Israel hingga batas waktu yang belum diumumkan secara resmi. Kesepakatan ini dianggap sebagai langkah krusial untuk mencegah eskalasi konflik yang berpotensi menyeret kawasan ke dalam kekacauan lebih dalam.
Kedua pihak, yang telah saling serang sejak Oktober 2023 menyusul meletusnya perang di Gaza, sepakat untuk menahan diri dari serangan udara, tembakan artileri, dan operasi militer lintas batas. Meski tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah Israel, sumber militer yang mengetahui proses negosiasi mengonfirmasi bahwa kesepakatan itu mencakup pengawasan ketat oleh pasukan penjaga perdamaian PBB di wilayah selatan Lebanon.
Hizbullah, yang tetap menolak mengakui keberadaan Israel, menyatakan kesepakatan ini bukanlah pengakuan politik, melainkan langkah taktis untuk memberi ruang bagi warga sipil dan memulihkan infrastruktur yang hancur akibat serangan berulang. Sementara itu, otoritas Israel menekankan bahwa gencatan senjata ini bersifat sementara dan tetap tergantung pada kepatuhan penuh dari pihak Lebanon dan kelompok bersenjata di perbatasan.
Pertemuan antara perwakilan militer kedua belah pihak berlangsung di kantor PBB di Naqoura, Lebanon, dengan mediator utama dari Amerika Serikat dan Prancis. Kedua negara Barat ini berperan sebagai jembatan komunikasi, mengingat tidak adanya hubungan diplomatik langsung antara Tel Aviv dan Beirut.
Warga di wilayah utara Israel dan selatan Lebanon, yang selama sembilan bulan terakhir hidup dalam ketakutan akan serangan mendadak, mulai kembali ke rumah-rumah mereka yang sebagian besar rusak. Pemerintah Lebanon, meski tidak secara resmi terlibat dalam negosiasi, menyambut baik kesepakatan itu sebagai peluang untuk memulihkan stabilitas di wilayah yang selama ini menjadi sasaran konflik.
Analisis keamanan dari lembaga think tank di Washington dan Tel Aviv menilai kesepakatan ini sebagai “jeda strategis” yang bisa berlangsung berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, tergantung pada dinamika politik di Gaza dan tekanan internal di kedua negara. Namun, para pakar juga memperingatkan bahwa ketegangan tetap tinggi, dan satu kesalahan perhitungan bisa memicu kembali kekerasan.
Dengan gencatan senjata ini, dunia internasional berharap bisa memanfaatkan jeda tersebut untuk mendorong solusi jangka panjang—bukan hanya menunda konflik, tapi benar-benar mengakhiri siklus kekerasan yang telah menelan ratusan nyawa dan menghancurkan ribuan rumah.















