Home Berita Internasional Ironis: Pendukung Genosida Gaza, Ayah Pelaut India Tewas Serangan AS

Ironis: Pendukung Genosida Gaza, Ayah Pelaut India Tewas Serangan AS

Sumbawanews.com,- Mumbai – Sebuah ironi menyayat hati terungkap setelah tiga pelaut India tewas dalam serangan rudal Amerika Serikat di Selat Hormuz, di tengah keheningan duka keluarga. Salah satu korban, Aditya Sharma, 28, adalah putra Rajesh Sharma, seorang warga India yang sebelumnya aktif mempromosikan narasi Islamofobia dan mendukung operasi militer Israel di Gaza.

Jejak digital Rajesh Sharma, yang tercatat dalam akun media sosialnya, menunjukkan serangkaian unggahan ekstrem yang meminta “pembersihan etnis” terhadap warga Muslim di Gaza. Pada 11 Oktober 2023, hanya beberapa hari setelah serangan Hamas terhadap Israel, ia menulis: “Israel harus secara etis membersihkan seluruh Gaza dan menjadikannya wilayah non-Muslim. Ini satu-satunya solusi untuk menjaga perdamaian di sana. Kudos to Mosad dan @IDF.” Unggahan itu kemudian dihapus, tetapi arsipnya masih tercatat oleh netizen dan media internasional.

Keluarga Aditya awalnya yakin putranya selamat. Sehari sebelum serangan, Aditya mengirim pesan WhatsApp yang menyatakan dirinya dalam keadaan aman. Namun, hanya satu jam kemudian, kapal MT Settebello, yang ia tumpangi sebagai awak, menjadi sasaran serangan rudal oleh Angkatan Laut AS. Pesan resmi dari perusahaan pelayaran mengonfirmasi: tiga awak kapal hilang, termasuk Aditya.

Serangan itu terjadi dalam konteks eskalasi militer yang semakin memanas di Teluk. Pada Februari 2026, AS dan sekutunya melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran, menewaskan lebih dari 3.000 warga sipil. Iran membalas dengan mengambil kendali strategis atas Selat Hormuz dan menembak jatuh kapal-kapal yang dianggap membantu pelanggaran sanksi minyak. AS, dalam responsnya, memberlakukan blokade militer dan menembaki kapal komersial yang melintas, termasuk kapal berbendera Palau yang membawa awak India.

Pemerintah India, yang sebelumnya mengecam serangan AS terhadap warganya, memanggil duta besar Amerika di New Delhi untuk meminta penjelasan. Tiga pelaut India—Aditya Sharma, Ravi Kumar, dan Suresh Mehta—dikonfirmasi tewas dalam dua serangan berbeda dalam waktu kurang dari 24 jam. Satu kapal lain, yang juga membawa 24 awak India, turut diserang di lepas pantai Oman.

Kematian Aditya Sharma menjadi sorotan global bukan hanya karena tragedinya, tetapi karena latar belakang ayahnya. Di tengah gelombang solidaritas internasional terhadap rakyat Gaza, Rajesh Sharma—yang sebelumnya menggembar-gemborkan kebencian terhadap umat Islam—kini berdiri di depan kamera, menangis meminta keadilan untuk putranya. Netizen di India dan dunia pun mempertanyakan: apakah kebencian yang ia sebarkan kini berbalik menghancurkan keluarganya sendiri?

Hubungan antara India dan AS, yang sempat membaik di bawah pemerintahan Modi dan Trump, kini memasuki titik terendah. Kedua negara dijadwalkan bertemu dalam KTT G7 di Prancis minggu depan, namun insiden ini berpotensi menggagalkan pembahasan kerja sama strategis, termasuk di bidang pertahanan dan perdagangan.

Sementara itu, di Mumbai, keluarga Aditya menunggu jenazahnya yang belum ditemukan. Di rumah mereka, foto sang ayah masih tergantung di dinding—dengan senyum yang kini terasa pahit. Di layar ponsel, pesan terakhir Aditya masih tersimpan: “Aku baik-baik saja, Ayah. Nanti kita makan bersama.”

Previous articleCCTV Bundaran HI Tetap Aktif Saat Aksi Mahasiswa
Next articleRatusan Kepsek di Sulsel Mundur, DPR Minta Temuan BPK Diusut Tuntas
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.