Sumbawanews.com,- Kepala negosiator Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, tiba di Oman pada Senin (22/6) dalam upaya memperkuat kerja sama keamanan maritim pasca kesepakatan rahasia dengan Amerika Serikat di Swiss. Kunjungan ini bukan sekadar formalitas diplomatik, tapi langkah strategis untuk memastikan kelancaran lalu lintas kapal di Selat Hormuz—salah satu jalur pelayaran paling krusial di dunia.
Dalam pertemuan dengan pejabat tinggi Oman, Qalibaf menekankan pentingnya mekanisme koordinasi darurat antarnegara yang melintasi perairan strategis tersebut. Ia juga mengonfirmasi telah menjalin komunikasi langsung dengan sejumlah pejabat AS untuk membahas pembentukan hotline keamanan maritim, yang dirancang mencegah eskalasi tak terduga di tengah ketegangan regional.
Kesepakatan yang dirundingkan di Swiss—meski belum diumumkan secara resmi—dikabarkan mencakup jaminan akses bebas bagi kapal komersial, serta protokol komunikasi cepat jika terjadi insiden di laut. Langkah ini dianggap sebagai terobosan tak terduga, mengingat hubungan Teheran-Washington yang masih penuh kecurigaan.
Oman, yang dikenal sebagai mediator netral di kawasan Teluk, menjadi pilihan ideal untuk memperkuat kesepakatan tersebut. Negara ini telah lama menjadi saluran komunikasi terselubung antara Iran dan Barat, termasuk selama negosiasi nuklir tahun 2015. Kini, perannya kembali ditekankan sebagai penjaga stabilitas di jalur strategis yang menghubungkan Teluk Persia dengan Samudra Hindia.
Meski tidak ada pernyataan resmi dari Washington, sumber diplomatik mengatakan AS secara implisit mendukung inisiatif ini, mengingat kepentingan ekonomi global yang tergantung pada kelancaran pengiriman minyak melalui Selat Hormuz. Lebih dari 20 juta barel minyak per hari melewati jalur ini—sekitar 20 persen dari pasokan global.
Dengan pendekatan diplomatik yang tenang namun taktis, Iran tampaknya berusaha memisahkan isu keamanan maritim dari konflik nuklir yang masih menggantung. Sementara itu, AS, meski belum menghapus sanksi, tampak bersedia menjaga stabilitas di laut—sebuah tanda bahwa pragmatisme bisa mengalahkan ideologi, bahkan di kawasan yang paling bergejolak sekalipun.















