Sumbawanews.com,- Setelah tiga upaya rekrutmen berantakan dalam waktu singkat, Inter Milan terperangkap dalam krisis transfer yang mengancam kesiapan skuad menjelang musim 2026/2027. Nerazzurri, yang sejak awal musim panas telah menargetkan pemain-pemain berkualitas untuk memperkuat lini belakang dan tengah, harus menghadapi kekecewaan berturut-turut tanpa satupun target utama berhasil didatangkan.
Awalnya, Inter mengincar bek kanan Marco Palestra dari Atalanta sebagai pengganti Denzel Dumfries yang dikabarkan bakal hengkang ke Real Madrid. Namun, Chelsea berhasil mengamankan Palestra dengan transfer senilai €60 juta, menggagalkan rencana Nerazzurri sebelum sempat dimulai. Dana yang seharusnya dialirkan untuk Palestra lantas dialihkan ke Nico Paz, gelandang muda Argentina dari River Plate yang menjadi solusi alternatif di lini tengah. Tapi lagi-lagi, impian itu pupus ketika Como mengumumkan kesepakatan permanen dengan pemain berusia 21 tahun itu, juga dengan nilai serupa: €60 juta.
Dengan dua target utama lenyap dalam hitungan minggu, manajemen Inter beralih ke Curtis Jones, gelandang Liverpool yang dikenal lincah, disiplin, dan memiliki pengalaman di liga top Eropa. Jones, yang kontraknya akan habis pada Juni 2027, menjadi pilihan logis karena bisa didatangkan dengan harga lebih terjangkau — terutama jika Inter bersedia menunggu hingga musim depan. Namun, Liverpool menolak tawaran awal sebesar €25 juta dan tetap mempertahankan harga €40 juta. Inter, yang kini terbatas anggaran dan enggan membayar lebih dari nilai kontrak tersisa, memilih bertahan di posisi €25 juta, mengandalkan strategi menunggu hingga kontrak Jones mendekati berakhir.
Laporan dari Calciomercato menyebut bahwa manajer Cristian Chivu dan tim scouting Inter semakin terjepit. Dengan jendela transfer yang terus menyempit, kegagalan mengamankan Palestra, Paz, dan kini Jones, berpotensi membuat lini tengah dan belakang Inter rapuh di awal musim. Tak ada pemain baru yang telah diumumkan, sementara pemain lama seperti Hakan Çalhanoğlu dan Marcelo Brozović terus menua.
Sementara rival-rival seperti AC Milan dan Juventus telah memperkuat skuad dengan transfer strategis, Inter justru terjebak dalam siklus penawaran yang tak kunjung membuahkan hasil. Di tengah tekanan untuk bersaing di Serie A dan Liga Champions, kegagalan beruntun ini bukan sekadar kehilangan tiga nama — tapi tanda bahwa perencanaan transfer klub mulai kehilangan arah.















