Sumbawanews.com,- Zaskia Adya Mecca tampil di tengah demonstrasi mahasiswa di Bundaran HI, Jakarta, dengan tiga ambulans dan sejumlah logistik kemanusiaan yang dikumpulkan dari donasi masyarakat. Bukan sebagai artis atau selebritas, tapi sebagai seorang ibu yang tak bisa diam melihat kekacauan yang mengancam masa depan anak-anaknya.
Dalam aksi yang digelar Jumat, 12 Juni 2026, Zaskia hadir bersama Aliansi Ibu Indonesia, tanpa bendera partai, tanpa orasi politik, tanpa kepentingan pribadi. Hanya satu yang mendorongnya: kegelisahan mendalam sebagai ibu dari enam anak yang melihat bangsa ini terus terpuruk dalam ketidakpastian.
“Saya datang karena saya punya tenaga, punya waktu, dan punya energi. Saya ingin bersuara—bukan dengan kata-kata, tapi dengan tindakan,” ujarnya di tengah kerumunan mahasiswa yang sedang menyampaikan tuntutan.
Tiga ambulans yang ia bawa bukanlah fasilitas pribadi, melainkan hasil patungan dari ratusan warga yang merespons unggahan di media sosialnya. Di dalamnya, tersedia obat-obatan, cairan infus, makanan, minuman, dan perlengkapan medis dasar. Semua disiapkan untuk menolong siapa pun yang terluka atau kelelahan di lapangan—tanpa memandang latar belakang.
“Saya tidak koordinasi dengan siapa pun. Saya hanya lihat di linimasa: ada yang terluka, ada yang kehausan, ada yang lemas. Saya pikir, kalau saya bisa bantu, kenapa tidak?” katanya sambil menunjuk seorang mahasiswa yang sedang meminum air dari botol yang ia berikan.
Suaminya, sutradara Hanung Bramantyo, tak melarang. Justru memberi satu pesan sederhana: “Hati-hati. Jangan anarkis. Jangan jadi provokator.” Zaskia menurut. Ia datang bukan untuk memimpin, tapi untuk mendukung. Bukan untuk mengambil alih, tapi untuk mengisi kekosongan.
Aksi ini pun mengejutkan banyak pihak. Bukan karena keberaniannya turun ke jalan—tapi karena ia memilih cara yang tak biasa: bukan dengan spanduk, tapi dengan ambulans; bukan dengan teriakan, tapi dengan pelayanan. Di tengah hiruk-pikuk politik, ia mengingatkan: kepedulian bukanlah simbol, tapi tindakan nyata.
Di antara tuntutan mahasiswa yang membentang di udara, Zaskia berdiri tenang di samping ambulans, membagikan air mineral, mengecek kondisi peserta aksi, dan sesekali berbisik, “Kamu baik-baik saja?”
Ia tak menuntut perubahan sistem. Ia hanya ingin, setidaknya, tak ada lagi ibu-ibu yang kehilangan anaknya karena ketidakpedulian.
Dan di tengah semua itu, satu hal yang terasa jelas: kadang, suara terkuat bukan yang paling keras, tapi yang paling manusiawi.

















