Sumbawanews.com,- Dukungan terhadap Gianni Infantino sebagai presiden FIFA kian goyah menyusul skandal penjualan saham Piala Dunia dan pengunduran diri mendadak Chief Operating Officer FIFA, Kevin Lamour. Keputusan tersebut memicu reaksi keras dari sejumlah pejabat tinggi FIFA, termasuk Sandor Csanyi, salah satu wakil presiden FIFA, yang menyebut pemecatan Lamour sebagai tanda kegagalan kepemimpinan dan pelanggaran terhadap prinsip transparansi serta etika. Csanyi menegaskan, Lamour adalah sosok yang profesional, berintegritas tinggi, dan berkontribusi signifikan dalam menjalankan operasional FIFA secara transparan, sehingga pengusirannya hanya dipicu oleh kritik yang dianggap sebagai “kesalahpahaman” — sebuah keputusan yang dinilai merusak fondasi organisasi.
Kekhawatiran serupa disuarakan oleh Dejan Savicevic, anggota Dewan FIFA sejak 2017 dan legenda sepak bola Montenegro, yang menyatakan rencana pengembangan program FIFA justru menunjukkan kegagalan komunikasi dan kurangnya transparansi, tidak hanya terhadap asosiasi anggota, tetapi juga terhadap struktur internal FIFA sendiri. Kedua pernyataan ini menjadi indikator kuat bahwa kepercayaan terhadap kepemimpinan Infantino mulai runtuh di kalangan elit sepak bola dunia.
Namun, tidak semua pihak menarik dukungan. PSSI melalui Ketua Umum Erick Thohir tetap berkomitmen mendukung Infantino untuk mempertahankan kursinya sebagai presiden FIFA. Pemilihan presiden FIFA akan berlangsung pada Kongres FIFA di Rabat, Maroko, pada 17 Maret 2027, di mana Infantino masih menjadi salah satu kandidat kuat, bersaing dengan Victor Montagliani, Aleksander Ceferin, dan Lise Klaveness.















