Sumbawanews.com,- Dua gempa kuat yang mengguncang Venezuela pada Rabu, 24 Juni 2026, telah menelan korban jiwa hingga 589 orang dan melukai 2.980 lainnya. Bencana alam yang terjadi dalam selang waktu hanya 39 detik itu—dengan magnitudo 7,2 dan 7,5—memporakporandakan sebagian besar wilayah Negara Bagian La Guaira, terutama kawasan pesisir Catia La Mar, di mana bangunan-bangunan runtuh seperti kartu domino.
Presiden sementara Venezuela, Delcy Rodríguez, mengatakan bahwa tim pencari dan penyelamat bekerja tanpa henti di bawah debu dan puing-puing untuk mengevakuasi korban yang masih terjebak. “Kami tidak akan meninggalkan satu pun jiwa yang masih berharap,” ujarnya dalam pernyataan resmi pada Jumat, 26 Juni, seperti dilansir kantor berita Anadolu.
Kerusakan infrastruktur parah memperparah krisis kemanusiaan. Pasokan air bersih, makanan, dan obat-obatan terhambat akibat jalan-jalan utama rusak dan listrik padam. Aparat keamanan dikerahkan untuk menjaga ketertiban dan mengamankan distribusi bantuan, sementara warga berbondong-bondong mengungsi ke lapangan terbuka, takut akan gempa susulan.
Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memastikan gempa ini berasal dari zona subduksi lempeng Karibia, yang dikenal aktif namun jarang melepaskan energi sebesar ini dalam satu waktu. Ilmuwan memperingatkan bahwa pola gempa kembar seperti ini—dengan kekuatan hampir identik dalam hitungan detik—sangat langka dan menunjukkan tekanan tektonik yang luar biasa di wilayah tersebut.
Di antara korban tewas, setidaknya enam warga negara asing tercatat. Kementerian Luar Negeri Brasil mengonfirmasi dua warganya—seorang pria dan seorang perempuan—tewas tertimpa reruntuhan. Italia melaporkan satu korban berwarganegara ganda Italia-Venezuela, sementara Kedutaan Besar Tiongkok di Caracas menyatakan dua warga negaranya menjadi korban. Portugal juga mengonfirmasi kematian satu warganya.
Operasi penyelamatan diperkirakan akan berlangsung berhari-hari lagi. Otoritas Venezuela memperingatkan bahwa angka korban bisa terus bertambah seiring pendalaman pencarian di lokasi-lokasi yang sulit dijangkau. Bantuan internasional mulai mengalir, meski sistem logistik yang lemah dan krisis ekonomi berkepanjangan di Venezuela menjadi tantangan besar.
Di tengah duka, kisah-kisah keberanian muncul: seorang ibu yang membeku ketakutan saat gempa, diselamatkan oleh anaknya yang berusia tujuh tahun, yang berlari ke luar rumah sambil menggendong ibunya yang lumpuh. Cerita itu kini menjadi simbol ketahanan rakyat Venezuela di tengah bencana yang tak terduga.
Pemerintah masih menutup mulut tentang kerusakan infrastruktur strategis, termasuk fasilitas medis dan jembatan kunci, namun tekanan internasional terus meningkat. Dunia menunggu apakah Venezuela akan menerima bantuan asing secara terbuka—atau membiarkan penderitaan rakyatnya berlarut-larut dalam diam.















