Sumbawanews.com,- Pada Jumat, 26 Juni 2026, gempa bermagnitudo 6,6 hingga 6,8 mengguncang wilayah Mindanao, Filipina Selatan, pukul 19.34 waktu setempat atau 18.34 WIB. Pusat gempa berada di laut, sekitar 90 kilometer barat daya Pulau Balut, Kabupaten Sarangani, menurut Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mencatat episentrumnya sedikit berbeda, yaitu 196 kilometer barat laut Tahuna, Kepulauan Sangihe.
Guncangan terkuat tercatat di Kiamba, Sarangani, dengan skala V MMI—cukup kuat untuk membuat benda-benda bergerak, jendela bergetar, dan warga merasakan getaran jelas seperti truk lewat di dekat rumah. Di Indonesia, getaran terasa hingga Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, pada skala III MMI, membuat sebagian warga panik dan keluar rumah.
Meski kuat, gempa ini tidak memicu tsunami. Pernyataan resmi dari BMKG dan otoritas Filipina menegaskan tidak ada ancaman gelombang pasang. Namun, kekhawatiran tetap tinggi mengingat gempa dahsyat berkekuatan M7,8 yang terjadi hanya 18 hari sebelumnya—pada 8 Juni 2026—telah menewaskan 81 orang dan melukai lebih dari seribu lainnya di Mindanao. Gempa itu bahkan sempat memicu tsunami kecil yang terdeteksi di perairan Sulawesi Utara dan Maluku.
Kedua gempa ini terjadi di zona subduksi yang sangat aktif, di mana lempeng Pasifik bertemu dengan lempeng Filipina. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu paling rawan gempa di dunia. Para ahli geofisika memperingatkan bahwa aktivitas seismik di kawasan ini masih berpotensi meningkat dalam beberapa pekan mendatang, terutama di sepanjang jalur patahan yang sama.
Pemerintah Filipina telah mengaktifkan tim tanggap darurat, sementara BMKG terus memantau perkembangan dan mengimbau masyarakat di wilayah pesisir utara Sulawesi untuk tetap waspada. Belum ada laporan kerusakan signifikan atau korban jiwa akibat gempa terkini, namun sejumlah bangunan di daerah terpencil dilaporkan mengalami retak dan atap bergeser.
Gempa ini menjadi peringatan keras bahwa kawasan Asia Tenggara dan Timur Laut Asia tetap berada di garis depan ancaman geologi. Persiapan, edukasi, dan infrastruktur tahan gempa bukan lagi pilihan—tapi kebutuhan mendesak.















