Sumbawanews.com,- Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak dunia, telah ditutup selama lebih dari 100 hari—tapi harga minyak justru tak melonjak. Sebaliknya, Brent crude masih bertahan di kisaran $87,55 per barel, bahkan lebih rendah dari sebelum konflik meletus. Di balik ketenangan ini, tersembunyi operasi gelap yang memindahkan jutaan barel minyak tanpa jejak: kapal-kapal tanker mematikan transponder AIS, bergerak di malam hari, mendekati perairan Oman, dan terkadang didampingi kapal perang.
Presiden Donald Trump pernah mengklaim bahwa misi rahasia AS telah mengalirkan 100 juta barel minyak melalui selat itu sejak awal Mei. Angka itu, meski terdengar besar, hanyalah sebagian kecil dari volume normal—yang sebelum konflik mencapai 20 juta barel per hari. “Ini seperti setetes air di lautan,” kata Matt Stanley dari Kpler, perusahaan pelacak kapal dan analis pasar komoditas. Fakta bahwa angka ini sulit diverifikasi bukan karena kurangnya data, tapi karena sengaja dirahasiakan. Industri menyebutnya “perdagangan gelap”—operasi yang sengaja menghindari sistem pelacakan internasional.
Meski pengiriman minyak dari Teluk Arab anjlok 95%, dan gas alam cair turun hingga 99%, pasar global belum kolaps. Cadangan strategis menjadi penyangga utama. China, misalnya, telah menguras 1,3 miliar barel cadangannya, menurunkan konsumsi dari 12,5 juta barel per hari di Desember menjadi sekitar 7 juta barel per hari pada Mei-Juli. Amerika Serikat, Brasil, dan Kanada pun turut mengisi kekosongan. Namun, sumber-sumber ini tidak abadi. “Kita sudah mendekati level operasional kritis,” ujar Iman Nasseri dari FGE NexantECA. “Jika selat tetap tertutup hingga Juli, semua buffer akan habis.”
Masalah lebih besar menanti di depan. Lebih dari 80 fasilitas energi di wilayah itu rusak, menurut IEA, dan pemulihan bisa memakan waktu hingga dua tahun. UAE memperkirakan arus normal di Selat Hormuz baru akan pulih pada 2027. Stanley memperingatkan, bahkan jika selat dibuka kembali dalam waktu singkat, risiko justru muncul: minyak dari negara-negara yang terisolasi—seperti Irak—akan segera membanjiri pasar. “Ini bisa menekan harga hingga $50 per barel,” katanya. “Dan itu akan memaksa OPEC untuk membentuk kembali mekanisme pengaturan pasokan—mungkin bahkan membentuk OPEC Timur Tengah baru.”
Sementara itu, infrastruktur pendukung—kapal, petugas inspeksi, jasa pendukung—telah berhenti beroperasi karena tidak ada bisnis. Stanley memperkirakan, butuh waktu tiga bulan hanya untuk menghidupkan kembali sistem dasar. Di tengah ketidakpastian ini, pasar menunggu—bukan hanya untuk kepastian keamanan, tapi juga untuk mengetahui apakah harga minyak akan kembali stabil, atau justru meledak dalam gelombang pasca-konflik yang tak terduga.

















