Sumbawanews.com,- Tim penyelamat terus menggali reruntuhan gedung di Kota Gaza yang runtuh pada Rabu, 16 September 2026, menewaskan sedikitnya 19 orang, termasuk lima anak-anak. Sebanyak 25 orang lainnya terluka dan dibawa ke rumah sakit, sementara petugas masih mendengar suara korban yang terjebak di bawah puing. Gedung bertingkat empat itu sebelumnya rusak parah akibat serangan Israel dan menjadi tempat tinggal bagi sekitar 100 keluarga pengungsi yang tidak memiliki pilihan tempat berlindung lain. Saat runtuh, bangunan itu menimpa tenda-tenda pengungsi di sebelahnya, memperparah jumlah korban.
Operasi penyelamatan berjalan dalam kondisi ekstrem karena kelangkaan peralatan dan sumber daya. Petugas Pertahanan Sipil Gaza mengatakan mereka harus menggali dengan tangan kosong. Direktur Pertahanan Sipil Kota Gaza, Raed al-Dahshan, menyatakan masih ada harapan menemukan korban selamat karena suara dari bawah puing masih terdengar. Kepala kantor UNDP di Gaza, Alessandro Mrakic, mengonfirmasi tim bantuan dari PBB dan Mesir ikut terlibat, namun tidak memiliki peralatan memadai. Ia memperingatkan kemungkinan korban tewas akan bertambah.
Ribuan warga Palestina terpaksa tinggal di bangunan-bangunan rusak akibat serangan udara Israel selama lebih dari dua tahun perang. Harga sewa yang melonjak dan ketiadaan lahan kosong memaksa keluarga-keluarga menghuni struktur yang rapuh, meski menyadari risiko runtuh sewaktu-waktu. PBB dan pejabat Palestina menyalahkan pembatasan Israel terhadap masuknya alat berat sebagai penyebab utama ketidakmampuan memperbaiki atau menghancurkan bangunan berbahaya. Israel menyatakan pembatasan itu bertujuan mencegah peralatan jatuh ke tangan kelompok militan.
Sejak gencatan senjata rapuh mulai berlaku pada 11 Oktober 2025, setidaknya 1.369 warga Palestina tewas dan 4.627 lainnya terluka akibat serangan yang masih berlanjut. PBB dalam penyelidikan independen menyimpulkan Israel terus melakukan genosida dengan sengaja menargetkan anak-anak di Gaza. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada hari yang sama menyatakan hanya tinggal menunggu waktu sebelum Israel melancarkan perang skala penuh lagi, dengan tujuan memaksa penduduk Palestina keluar dari wilayah tersebut.















