Home Berita Nasional Frugal Living: Dari Gaya Hidup Menjadi Kebutuhan Bertahan

Frugal Living: Dari Gaya Hidup Menjadi Kebutuhan Bertahan

Sumbawanews.com,- Dalam kondisi ekonomi yang tak menentu, berhemat bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Frugal living, yang dulu identik dengan gaya hidup sadar konsumsi, kini menjadi strategi bertahan bagi ribuan keluarga di Indonesia. Konsep ini menekankan pengelolaan keuangan efisien, memprioritaskan kebutuhan pokok di atas keinginan, serta memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan memberi nilai maksimal.

Budayawan Seno Gumira Ajidarma dalam esainya _Mobil: Sebuah Mitos_ mengkritik obsesi urban Jakarta terhadap kepemilikan mobil sebagai simbol status, bukan fungsi. Ia menilai, mobil yang seharusnya mempermudah mobilitas justru menjadi beban akibat kemacetan, mengungkap bagaimana tuntutan sosial menciptakan ilusi kebutuhan. Pandangan ini menjadi dasar filosofis bagi mereka yang kini memilih hidup sederhana—seperti Intan Fauzi, 34, PNS di Jakarta, yang mulai mengelola keuangan secara ketat setelah mengalami kewalahan finansial. Ia kini menunda pembelian dengan menunggu satu hari, mempertimbangkan kebutuhan, kepemilikan barang serupa, dan harga. Baginya, sepatu original jadi satu-satunya barang mewah yang tetap dibeli, karena kualitas dan daya tahan yang menghemat biaya jangka panjang.

Hal serupa diakui Nur Aisah Zamil, 24, pegawai swasta. Dulu sering membeli barang karena tergoda iklan di TikTok atau Shopee, kini ia belajar membedakan kebutuhan dan keinginan. Ia membatasi anggaran skincare dan pakaian, menunda pembelian impulsif, dan membangun tabungan darurat. “Kemajuan finansial bukan soal punya rumah, tapi soal punya kendali atas uang sendiri,” ujarnya.

Ekonom Syafruddin Karimi dari Universitas Andalas menilai pola ini bukan sekadar perubahan perilaku, tapi respons terhadap tekanan ekonomi nyata. Upah buruh naik hanya 1,94% dari Agustus 2024 hingga Agustus 2025, sementara inflasi September 2026 mencapai 3,28% dan inflasi bahan pangan 5,03%. Kelompok kelas menengah—yang menyumbang 81,49% konsumsi nasional—kini mengalami penyusutan pendapatan diskresioner setelah membayar kebutuhan dasar. Akibatnya, belanja non-esensial seperti rekreasi, elektronik, dan pakaian ditunda, sementara tabungan darurat jadi prioritas. “Ini bukan kemiskinan baru, tapi kompresi ruang finansial,” ujar Syafruddin.

Penghematan massal ini berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi, karena konsumsi rumah tangga adalah mesin utama perekonomian Indonesia. Namun bagi Intan dan Aisah, frugal living bukan pelit, tapi keberanian memilih hidup autentik—melepaskan diri dari jebakan gengsi, dan merebut kembali kendali atas masa depan finansial mereka.

Previous articleJustin Hubner Kokoh, Fortuna Sittard Menang 1-0 atas Excelsior
Next articleMoh Zaki Ubaidillah Raih Runner-up di French Open 2026