Home Berita Internasional El Nino Menguat, Ancaman Kekeringan dan Banjir Meningkat

El Nino Menguat, Ancaman Kekeringan dan Banjir Meningkat

Sumbawanews.com,- Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional Amerika Serikat (NOAA) mengonfirmasi terbentuknya fenomena El Nino di Samudra Pasifik pada 11 Juni 2026, dengan potensi menjadi salah satu yang terkuat sejak pencatatan dimulai pada 1950. Para ilmuwan memperingatkan bahwa peristiwa ini tidak hanya akan memperparah pemanasan global, tetapi juga memicu gelombang cuaca ekstrem yang berdampak luas di seluruh belahan bumi.

El Nino, yang ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di kawasan khatulistiwa Pasifik, diperkirakan mencapai puncaknya lebih cepat dari biasanya—mungkin pada Agustus 2026, bukan di akhir tahun seperti pola historisnya. Peluangnya untuk menjadi “Super El Nino” atau bahkan “Godzilla El Nino” kini mencapai 63 persen, mengingatkan dunia pada peristiwa serupa tahun 1997 yang menyebabkan kerugian miliaran dolar akibat banjir, kekeringan, kebakaran hutan, dan gelombang panas.

Di Amerika Selatan barat, curah hujan ekstrem diprediksi akan memicu banjir bandang, sementara India bersiap menghadapi gelombang panas yang lebih intens dan berkepanjangan. Afrika Timur Laut berisiko mengalami perubahan drastis dari kekeringan parah menjadi hujan lebat yang merusak. Sebaliknya, sejumlah wilayah Timur Tengah yang selama ini terpapar kekeringan justru berpeluang memperoleh hujan yang lebih merata.

Namun, dampak paling mengkhawatirkan dirasakan di Asia Tenggara. Berdasarkan rilis resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Indonesia menghadapi ancaman kekeringan ekstrem dan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas sepanjang musim kemarau 2026. Puncaknya diproyeksikan terjadi pada Agustus, ketika curah hujan turun drastis dan kelembapan tanah mencapai titik kritis.

Fenomena ini juga mengubah pola badai global: aktivitas siklon di Atlantik cenderung melemah, mengurangi ancaman bagi pantai timur Amerika Serikat, tetapi justru meningkatkan risiko bagi kepulauan Pasifik seperti Hawaii dan negara-negara kepulauan kecil. Sementara itu, ekonomi global juga tidak luput dari dampaknya. Ekonom dari Stanford University, Marshall Burke, menekankan bahwa suhu yang melampaui normal secara signifikan memperlambat pertumbuhan ekonomi, terutama di negara-negara maju seperti AS.

Para ilmuwan memperingatkan bahwa El Nino kali ini mungkin bukan sekadar siklus alamiah, tetapi juga indikasi semakin kuatnya interaksi antara perubahan iklim manusia dan fenomena alam. “Pemanasan global akibat emisi karbon dari batu bara, minyak, dan gas memperkuat intensitas El Nino,” kata Gabriel Vecchi dari Princeton University. “Kita tidak bisa lagi memisahkan keduanya.”

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, menyebut kondisi ini sebagai “peringatan iklim yang mendesak.” “El Nino adalah bahan bakar yang ditambahkan ke api dunia yang sudah membara,” ujarnya dalam pesan video.

Di tengah ketidakpastian, para peneliti menekankan pentingnya kesiapsiagaan. Muhammad Azhar Ehsan, pemimpin tim peneliti iklim, menyerukan pendekatan proaktif: “Daripada terjebak dalam rasa takut, mari ajak masyarakat untuk bersiap. Kesiapan adalah senjata terbaik kita.”

Dengan prediksi bahwa 2027 bisa menjadi tahun terpanas dalam sejarah, dunia kini berada di persimpangan: antara respons yang terlambat dan tindakan kolaboratif yang menyelamatkan. Waktu untuk bertindak semakin sempit—dan dampaknya, tak lagi bisa diabaikan.

Previous articleInfluencer Asing Dilarang Monetisasi Konten di Piala Dunia 2026 Tanpa Visa Kerja
Next articleTrump Gelar UFC di Gedung Putih untuk Ultah ke-80
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.