Sumbawanews.com,- Suhu muka laut di Samudra Pasifik ekuator bagian timur telah melampaui 1,56 derajat Celsius di atas normal, menandai fenomena El Nino 2026 memasuki fase sangat kuat. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi intensitasnya akan terus meningkat hingga mencapai level super kuat, melebihi El Nino kuat pada 2023. Peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menyatakan anomali suhu di wilayah Nino3.4 kini mencapai +1,74 derajat Celsius, dengan tren kenaikan 0,2 derajat per pekan sejak Februari. Peluang mencapai anomali +2,0 derajat Celsius—definisi El Nino super—diprediksi sebesar 81 persen pada Oktober hingga Desember 2026.
BMKG telah menetapkan sejumlah daerah di Yogyakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dalam status Awas terhadap kekeringan meteorologis, terutama pada dasarian ketiga Juli 2026. Sementara itu, indeks Indian Ocean Dipole (IOD) yang masih netral pada Juni diperkirakan berubah menjadi fase positif mulai September hingga Desember, memperkuat tren kering di Indonesia. Erma menambahkan, pemanasan subsurface laut yang kini mencapai +7 derajat Celsius—naik dari 5 derajat pekan sebelumnya—akan terus mendistribusikan panas ke permukaan dan memperparah dampak atmosferik. Fenomena ini menyebabkan curah hujan di Indonesia, Afrika Selatan, dan Brasil terhisap ke pusat tekanan rendah di Pasifik.
Menurut Erma, Kalimantan adalah wilayah paling responsif terhadap dampak kekeringan El Nino, dengan risiko tinggi kebakaran hutan dan lahan yang semakin mengancam di puncak musim kering.















