Sumbawanews.com,- Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo mencapai titik kritis dengan jumlah kasus terkonfirmasi melebihi seribu dalam waktu hanya sebulan sejak pertama kali terdeteksi. Angka tersebut, yang mencapai 1.048 kasus dan 267 kematian hingga 22 Juni 2026, menjadikan wabah ini sebagai yang tercepat dan terbesar dalam sejarah negara itu pada tahap awal penyebaran.
Dalam pengarahan di Jenewa, Direktur Operasi Peringatan dan Respons Darurat Kesehatan WHO, Abdi Mahamud, menggambarkan situasi sebagai “menantang dan kompleks”. Ia menekankan bahwa pola penularan bervariasi di tiap zona kesehatan—beberapa wilayah menunjukkan stabilitas, sementara lainnya mengalami lonjakan tajam yang membebani sistem respons.
Upaya penanganan telah diperluas secara signifikan. Dalam dua minggu terakhir, kapasitas perawatan meningkat dari hanya beberapa tempat tidur menjadi lebih dari 500 tempat tidur yang tersebar di 19 pusat perawatan. Di sisi lain, kapasitas laboratorium pun melonjak dari 30 tes per hari menjadi lebih dari 2.000 tes harian, berkat delapan laboratorium terdesentralisasi di Provinsi Ituri, Kivu Utara, dan Kivu Selatan.
Namun, tekanan terhadap fasilitas kesehatan terus memburuk. Tingkat keterisian tempat tidur kini mencapai 84 persen, mengancam kemampuan sistem untuk menangani kasus baru. Mahamud memperingatkan bahwa tanpa intervensi lebih agresif, risiko penyebaran ke wilayah lain semakin mengkhawatirkan.
Untuk memperkuat respons, WHO telah mengajukan permohonan dana sebesar 115 juta dolar AS (sekitar Rp2,06 triliun). Pendanaan ini akan digunakan untuk memperluas pelacakan kontak, memperkuat sistem kesehatan masyarakat, dan mendukung pelatihan tenaga medis—termasuk yang telah menjadi korban, dengan 75 petugas kesehatan terinfeksi dan 17 di antaranya meninggal.
Kekhawatiran juga menyebar ke luar perbatasan. Uganda, negara tetangga, telah melaporkan 20 kasus terkonfirmasi yang terkait dengan wabah di Kongo, menandai ancaman transnasional yang semakin nyata. WHO menegaskan bahwa meski belum menyatakan keadaan darurat global, skala dan kecepatan penyebaran wabah ini memerlukan respons internasional yang segera dan terkoordinasi.
Dengan sumber daya yang masih terbatas dan geografi yang sulit dijangkau, upaya pencegahan di Kongo kini berada di titik kritis—di mana setiap jam menentukan apakah wabah ini akan terkendali atau meledak menjadi bencana kemanusiaan terbesar di Afrika tengah dalam dekade ini.















