Home Berita Internasional Dunia Pernah Kehilangan 60 Juta Nyawa Akibat Kelaparan Kekeringan

Dunia Pernah Kehilangan 60 Juta Nyawa Akibat Kelaparan Kekeringan

Sumbawanews.com,- Pada periode 1876 hingga 1878, bumi dilanda salah satu bencana lingkungan paling mematikan dalam sejarah manusia modern. Kekeringan ekstrem yang dipicu oleh fenomena El Niño terkuat yang pernah tercatat, menghancurkan panen di berbagai benua, menyeret ratusan juta orang ke jurang kelaparan, dan menewaskan hingga 60 juta jiwa—setara dengan tiga persen populasi dunia saat itu.

Menurut penelitian ilmuwan iklim Deepti Singh dari Lamont-Doherty Earth Observatory, Universitas Columbia, Amerika Serikat, kekeringan ini bukan sekadar fenomena cuaca biasa. Ia adalah bencana sistemik yang memicu runtuhnya sistem penyimpanan pangan tradisional, ketidakadilan kebijakan kolonial, dan kegagalan respons pemerintah. Dampaknya terasa dari Asia hingga Amerika Latin dan Afrika.

Di India, korban jiwa diperkirakan antara 12,2 hingga 29,3 juta orang—sebagian besar petani dan buruh tani yang tergantung pada hujan muson. Di Tiongkok, terutama di wilayah utara yang terkena kekeringan terparah dalam 300 tahun terakhir, angka kematian mencapai 19,5 hingga 30 juta. Di Brasil timur laut, sekitar dua juta orang tewas akibat gagal panen berkelanjutan, sementara di Afrika, wilayah seperti Ethiopia, Mesir, dan Afrika Selatan juga dilanda kelaparan massal.

Fenomena El Niño, yang menyebabkan pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik khatulistiwa, memperparah kondisi dengan mengganggu pola hujan global. Namun, para peneliti menekankan bahwa iklim bukan satu-satunya penyebab. Kebijakan kolonial yang mengutamakan ekspor biji-bijian daripada kebutuhan lokal, pengabaian infrastruktur irigasi tradisional, dan sistem perdagangan yang tidak adil justru memperdalam krisis.

Jurnal American Meteorological Society menyebut kelaparan ini sebagai yang paling luas dan mematikan dalam 150 tahun terakhir—dengan korban sebanding dengan Perang Dunia I atau pandemi influenza 1918. Di Cina, rekonstruksi curah hujan dari cekungan Sungai Kuning menunjukkan kekeringan tahun 1876-78 adalah yang paling parah dalam tiga abad. Sementara di Amerika Selatan, wilayah pesisir barat laut justru diguyur hujan lebat dan banjir, menunjukkan betapa kompleksnya pola iklim yang terganggu.

“Ini bukan hanya soal cuaca buruk,” tulis para peneliti. “Ini adalah kegagalan peradaban dalam mengelola kerentanan lingkungan dan ketimpangan sosial.”

Kisah kelaparan 1876-1878 bukan sekadar sejarah. Ia menjadi peringatan tajam: di era perubahan iklim yang semakin ekstrem, ketidakadilan struktural dan ketidakmampuan merespons bencana bisa mengubah kekeringan menjadi genosida.

Previous articleAnjing Masuk PAUD di China, Bukan Sekadar Peliharaan
Next articlePrabowo Dapat Telepon dari Abbas, Dukung Solusi Dua Negara
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.