Sumbawanews.com,- Seorang mantan pejabat senior Central Intelligence Agency (CIA) ditangkap setelah petugas federal menemukan lebih dari 300 batang emas senilai lebih dari US$40 juta—setara dengan Rp600 miliar—tersimpan di rumahnya. David Rush, 48, ditahan pada 19 Mei 2026, menyusul penyelidikan internal oleh CIA yang mengungkap dugaan penyalahgunaan dana pemerintah dan pemalsuan dokumen resmi.
Dalam surat pernyataan bersama antara CIA dan Federal Bureau of Investigation (FBI), Rush didakwa melakukan pencurian terhadap aset negara selama lebih dari 15 tahun. Ia diduga memanfaatkan jabatannya untuk mengajukan permintaan pengeluaran operasional fiktif, termasuk pembelian emas batangan dan mata uang asing, yang tak pernah dilaporkan penggunaannya. Saat penyitaan di rumahnya pada 18 Mei, petugas FBI menemukan 303 batang emas—masing-masing seberat sekitar 1 kg—beserta US$2 juta uang tunai dan 35 jam tangan mewah, sebagian besar merek Rolex.
Rush, yang diklasifikasikan sebagai pejabat tingkat Senior Executive Service dengan akses informasi rahasia, sebelumnya mengklaim memiliki latar belakang militer dan pendidikan yang tidak pernah ada. Menurut affidavit FBI, ia mengaku lulus dari Clemson University dan Rensselaer Polytechnic Institute, serta pernah menjadi pilot angkatan laut. Namun, tidak ada catatan akademik atau militer yang mendukung klaim itu. Ia juga menyatakan dirinya sebagai kapten di Navy Reserves—pangkat lebih tinggi dari jabatan resminya sebagai letnan—dan mengajukan cuti militer sebanyak 744 jam hingga September 2025, yang menghasilkan kompensasi sekitar US$77.000.
Dari November 2025 hingga Maret 2026, Rush secara berulang mengajukan permintaan dana operasional untuk “keperluan kerja” berupa emas batangan dan mata uang asing. Namun, CIA tidak bisa menemukan bukti bahwa emas atau uang tersebut pernah digunakan untuk misi apa pun. Tidak ada laporan, tidak ada rekaman transaksi, tidak ada jejak distribusi. Semua dana itu, menurut penyelidik, menguap—hingga akhirnya ditemukan berserakan di ruang bawah tanah rumahnya.
Kasus ini membangkitkan kembali spekulasi panjang tentang penggunaan emas oleh lembaga intelijen sebagai alat pembayaran rahasia. Emas, karena nilainya yang stabil dan tidak terlacak secara digital, telah lama dianggap sebagai alat transaksi ideal dalam operasi rahasia—terutama di wilayah dengan sistem perbankan lemah atau di mana jejak keuangan harus dihindari. Dalam buku *Gold Warriors* (2003), penulis Sterling dan Peggy Seagrave mengungkap bahwa CIA diduga memanfaatkan emas hasil penemuan harta karun Yamashita di Filipina selama Perang Dunia II untuk mendanai operasi anti-Soviet.
Praktik serupa juga dilaporkan terjadi di tingkat internasional. Laporan Komite Urusan Luar Negeri Parlemen Inggris tahun 2023 menyebut kelompok paramiliter Rusia Wagner menggunakan jaringan penyelundupan emas dari negara-negara Afrika—seperti Republik Afrika Tengah, Mali, dan Sudan—sebagai sumber pendanaan ilegal. Dalam skema ini, emas menjadi alat tukar untuk pertukaran keamanan militer, sekaligus sumber pendapatan gelap yang sulit dilacak.
Rush kini menunggu sidang penahanan di pengadilan federal Alexandria, Virginia. Jaksa menilai kasus ini bukan sekadar pencurian, tapi bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan publik. Ia tidak hanya mencuri aset negara—tapi juga memalsukan identitas, memanfaatkan sistem, dan mungkin mengancam keamanan nasional melalui kebohongan yang sistematis.
Saat ini, CIA belum mengonfirmasi jabatan pasti Rush selama masa dinasnya. Namun, satu hal jelas: di balik emas yang mengilap itu, tersembunyi jaringan kebohongan yang jauh lebih berat.















