Home Serba Serbi Tekno China Gunakan ChatGPT Ganggu Opini Publik AS

China Gunakan ChatGPT Ganggu Opini Publik AS

Sumbawanews.com,- OpenAI mengungkap operasi siber terstruktur yang diduga berasal dari China, memanfaatkan kecerdasan buatan ChatGPT untuk memanipulasi perdebatan publik di Amerika Serikat. Dalam laporan resminya, perusahaan teknologi asal San Francisco itu membongkar dua kelompok aktor yang bekerja secara tersembunyi, menggunakan AI bukan sebagai alat bantu, melainkan sebagai senjata propaganda.

Kelompok pertama, yang dijuluki “Data Center Bandwagon”, sengaja memicu kekhawatiran di kalangan warga AS tentang dampak lingkungan dan ekonomi dari pembangunan pusat data AI. Mereka memerintahkan ChatGPT untuk menghasilkan argumen berbahasa Inggris, komik visual, hingga narasi yang seolah berasal dari warga lokal—semua bertujuan menyoroti lonjakan tarif listrik di sekitar fasilitas tersebut. Fakta bahwa tarif listrik di beberapa wilayah memang naik hingga 267% dalam lima tahun terakhir, menurut data Bloomberg, dimanfaatkan sebagai bahan bakar narasi. Akun-akun palsu kemudian menyebarkan konten ini di media sosial, sambil menyisipkan tautan dari media arus utama yang kredibel untuk memperkuat kesan otentik.

Tak hanya menyerang isu energi, kelompok ini juga melancarkan serangan terhadap komunitas diaspora Tiongkok di luar negeri. Mereka meminta AI menghasilkan kalimat penghinaan dan provokasi untuk melecehkan aktivis pro-demokrasi dan kritikus pemerintah Beijing. Dengan menyamar sebagai imigran atau profesional Tiongkok yang tinggal di AS, mereka memancing tokoh-tokoh daring agar semakin vokal mengkritik kebijakan Washington—menggiring opini bahwa pemerintah AS gagal menangani isu domestiknya sendiri.

Sementara itu, kelompok kedua fokus pada kritik terhadap kebijakan perdagangan dan teknologi AS. Mereka menyebarkan narasi bahwa Amerika sering “menusuk dari belakang” sekutunya, dengan konten yang ditulis dalam lima bahasa: Inggris, Mandarin Tradisional, Jepang, Italia, dan lainnya. Uniknya, mereka secara sengaja melarang ChatGPT memunculkan wajah Presiden Xi Jinping dalam gambar yang dihasilkan, seolah ingin menjaga jarak simbolis dari keterlibatan langsung pemerintah Tiongkok.

Meski kampanye ini gagal memicu keterlibatan signifikan dari pengguna asli AS, temuan OpenAI justru lebih mengkhawatirkan karena menunjukkan tingkat kedalaman perencanaan. Dokumen strategi yang diunggah langsung ke ChatGPT mengungkap panduan rinci tentang cara membuat akun palsu agar lolos dari deteksi platform, serta teknik memanfaatkan kecemasan nyata—seperti kenaikan listrik—untuk membangun kepercayaan.

Yang paling membingungkan, para pelaku memilih menggunakan teknologi AS—ChatGPT—bukan chatbot buatan dalam negeri seperti DeepSeek. OpenAI mengakui tidak bisa menjawab mengapa pilihan ini diambil. “Kami tidak berada dalam posisi untuk menentukan apa yang mendorong pilihan tersebut,” tulis laporan mereka.

Temuan ini bukan sekadar peringatan tentang penyalahgunaan AI, tapi bukti nyata bahwa perang opini abad ke-21 kini dimainkan bukan dengan senjata, melainkan dengan kata-kata yang dihasilkan mesin—dan disebarkan oleh akun yang tak pernah ada.

Previous articleNBA Streetball dan Solarpunk: Lima Game Indie Terbaik yang Wajib Dicoba
Next articleJokowi Segera Resmi Berjaket PSI, Struktur Partai Dipercepat
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.