Sumbawanews.com,- Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) berhasil mengembangkan sistem kecerdasan buatan bernama Bz4SWx yang mampu memprediksi kekuatan badai matahari hingga empat hari sebelum mencapai Bumi. Inovasi ini menjadi terobosan signifikan dalam bidang cuaca antariksa, mengatasi tantangan klasik yang dikenal sebagai “The Bz Problem”—yakni kesulitan memprediksi arah dan waktu minimum komponen medan magnet antarplanet (Bz) yang menentukan seberapa parah dampak badai matahari terhadap Bumi.
Peneliti Pusat Riset Antariksa BRIN, Tiar Dani, menjelaskan bahwa kekuatan badai matahari tidak hanya ditentukan oleh intensitas lontaran massa korona (CME), tetapi lebih krusial lagi oleh orientasi medan magnet yang dibawanya. Jika medan magnet antarplanet mengarah ke selatan selama beberapa jam, ia akan “membuka gerbang” pertahanan alami Bumi—medan magnet planet yang biasanya melindungi kita dari partikel bermuatan dari Matahari. Kondisi ini memungkinkan energi matahari menembus lapisan atmosfer atas, memicu badai geomagnetik yang bisa merusak satelit, sistem navigasi, komunikasi radio, hingga jaringan listrik skala besar.
“Bayangkan seperti kunci yang pas masuk ke gembok. Ketika Bz mengarah ke selatan, ia membuka celah di perisai magnetik Bumi. Itu saatnya ancaman nyata mulai mengancam,” ujar Tiar dalam keterangan tertulis, 25 Juni 2026.
Sistem Bz4SWx dirancang dengan pendekatan *multimodal deep learning* yang menggabungkan berbagai sumber data: kecepatan dan arah CME, serta citra magnetogram Matahari—peta medan magnet di permukaan matahari yang menunjukkan lokasi daerah aktif penuh tekanan magnetik. Dengan menggabungkan informasi ini, AI mampu memperkirakan tidak hanya seberapa rendah nilai Bz akan turun, tetapi juga kapan titik terendahnya akan tercapai dalam rentang 96 jam setelah CME terjadi.
Keunggulan utama Bz4SWx terletak pada teknologi *attention mechanism*, mirip cara mata manusia secara otomatis fokus pada objek paling mencolok atau berbahaya. Sistem ini secara dinamis mengidentifikasi dan memprioritaskan area di permukaan Matahari yang paling berpotensi memicu badai geomagnetik ekstrem, mengabaikan noise data yang tidak relevan. Ini menjadikannya jauh lebih akurat dibanding metode konvensional yang hanya mengandalkan data kecepatan CME.
Hasilnya menjanjikan: prediksi intensitas badai dengan tingkat akurasi tinggi dan peringatan dini hingga empat hari sebelum dampaknya terasa di Bumi. Dalam skala badai geomagnetik (G1 hingga G5), prediksi ini krusial. Pada level G1-G2, dampaknya mungkin hanya aurora yang indah dan gangguan kecil pada jaringan listrik. Namun, jika mencapai G5—seperti peristiwa Quebec tahun 1989 yang memicu pemadaman listrik selama sembilan jam—dampaknya bisa mematikan: transformator listrik hancur, satelit jatuh dari orbit, dan komunikasi global lumpuh.
“Dengan waktu 96 jam, operator satelit bisa mematikan sistem sementara, perusahaan listrik bisa menyesuaikan beban jaringan, dan penerbangan bisa menghindari rute kutub yang berisiko tinggi,” jelas Tiar.
Sistem ini kini menjadi bagian dari inisiatif *Research in AI for Space* (R.A.I.Se), yang dikembangkan di bawah Kelompok Riset Matahari dan Aktivitasnya di BRIN. Ke depan, BRIN berencana mengintegrasikan Bz4SWx ke dalam jaringan pemantauan cuaca antariksa nasional, sekaligus membuka peluang kolaborasi internasional.
“Kita tidak hanya ingin mendeteksi ancaman. Kita ingin melindungi infrastruktur vital negara sebelum ia terkena serangan dari luar angkasa,” ujar Tiar.
Dengan inovasi ini, Indonesia menunjukkan kemampuan teknologi tinggi dalam menjawab tantangan global—bukan hanya sebagai pengamat, tapi sebagai pelindung.















