Home Berita Olah Raga Brasil vs Jepang: Ancelotti Hindari Perang Psikologis, Fokus pada Pertandingan

Brasil vs Jepang: Ancelotti Hindari Perang Psikologis, Fokus pada Pertandingan

Sumbawanews.com,- 29 Juni 2026 | 21.52 WIB

Menjelang laga 32 besar Piala Dunia 2026 antara Brasil dan Jepang, pelatih timnas Brasil, Carlo Ancelotti, secara tegas menolak terjebak dalam perang psikologis yang kerap menghiasi pertandingan besar. Ia memilih fokus pada persiapan teknis dan mental timnya, bukan merespons komentar provokatif dari lawan.

Laga yang berlangsung pada Selasa, 30 Juni 2026, pukul 00.00 WIB di Stadion Monterrey, Meksiko, menjadi duel kedua antara Ancelotti dan pelatih Jepang, Hajime Moriyasu, setelah pertemuan mereka di laga persahabatan tahun lalu. Kedua tim datang ke babak gugur dengan catatan tak terkalahkan: Brasil juara Grup C setelah menang atas Haiti dan Skotlandia, serta bermain imbang 1-1 melawan Maroko; sementara Jepang finis runner-up Grup F setelah menang 4-0 atas Tunisia dan bermain seri 2-2 melawan Belanda, serta 1-1 melawan Swedia.

Meski diunggulkan secara statistik, Brasil tak bisa mengabaikan kebangkitan Jepang. Tim Samurai Biru belum kalah dalam 10 pertandingan terakhir sejak kekalahan 0-2 dari Amerika Serikat pada September 2025. Mereka bahkan pernah mengalahkan Brasil dalam laga persahabatan di Tokyo, serta menaklukkan Inggris di Wembley—prestasi yang menjadi fondasi keyakinan Moriyasu bahwa timnya mampu menciptakan kejutan.

Namun, Jepang kehilangan salah satu pilar kreatifnya, Takefusa Kubo. Bintang Real Sociedad itu masih dalam pemulihan cedera setelah ditarik keluar pada laga pembuka melawan Belanda dan absen dalam dua pertandingan terakhir. Moriyasu mengakui Kubo belum siap tampil, meski tetap optimistis. “Brasil berada di puncak, kami tidak. Tapi dalam sepak bola, kesempatan selalu ada. Kami ingin mengubah sejarah,” ujarnya.

Ancelotti, sebaliknya, menolak memancing emosi dengan pernyataan dari pemain muda Jepang Kento Shiogai yang menyiratkan Brasil tak lagi menakutkan. “Kami tidak melakukan *mind games*. Kami fokus pada kualitas lawan, pada persiapan, dan pada pertandingan itu sendiri,” tegasnya. Ia menilai, keberhasilan timnya bukan terletak pada kata-kata, tapi pada performa di atas lapangan.

Kabar baik bagi Brasil datang dari kembalinya Neymar. Penyerang andalan itu tampil selama 15 menit dalam kemenangan 3-0 atas Skotlandia, menjadi penampilan pertamanya sejak cedera betis kanan yang membuatnya absen selama tiga tahun. Ancelotti mengatakan kondisi Neymar terus membaik dan siap bermain lebih lama. “Dia berkembang pesat pekan ini. Fisiknya sudah bagus. Tapi durasi main akan tergantung pada alur pertandingan.”

Sementara itu, Moriyasu mengambil alih kendali penuh atas urutan penendang penalti jika laga berakhir imbang. “Di 2022, pemain yang menawarkan diri. Kali ini, saya yang memutuskan. Tidak ada ruang untuk keputusan emosional,” ujarnya.

Pemenang laga ini akan melaju ke babak 16 besar untuk menghadapi pemenang pertandingan Pantai Gading melawan Norwegia, yang akan berlangsung di New York New Jersey Stadium pada 5 Juli mendatang.

Dengan segala beban sejarah, harapan, dan kejutan yang mungkin tercipta, laga ini bukan sekadar pertandingan—tapi ujian ketahanan mental, strategi, dan keberanian dua tim yang sama-sama percaya: bahwa sepak bola bukan soal siapa yang lebih besar, tapi siapa yang lebih siap.

Previous articleVictor Dethan, Rekrutan Pertama Persija di Era Shin Tae-yong
Next articlePersija Jakarta Resmi Dapatkan Pelatih Kiper yang Pernah Bekerja dengan Shin Tae-yong di Timnas