Sumbawanews.com,- Tim riset Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung (SITH ITB) berhasil mengembangkan pepton dari larva lalat tentara hitam (Black Soldier Fly) sebagai alternatif lokal pengganti produk impor dari Jerman dan Amerika Serikat. Inovasi ini tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap pepton impor yang harganya mencapai Rp1,3–5 juta per kilogram, tetapi juga menawarkan nutrisi lebih unggul untuk pertumbuhan mikroba di laboratorium dan industri bioteknologi. Hasil uji menunjukkan kepadatan sel mikroba yang diberi pepton maggot 90 persen lebih tinggi dibanding pepton komersial, dengan biaya produksi hingga separuh harga produk impor. Prosesnya melibatkan hidrolisis dan purifikasi tepung maggot yang berasal dari limbah organik, sekaligus membuka potensi penanganan sampah domestik, restoran, dan agroindustri.
Pepton yang dihasilkan memiliki profil asam amino esensial lebih lengkap, meningkatkan efisiensi nutrisi bagi mikroba. Riset yang dimulai sejak 2015 ini kini menarik minat investor yang tengah mengkalkulasi skala bisnisnya. Tim ITB juga menekankan bahwa standarisasi jenis limbah organik yang diberikan pada maggot akan menentukan kualitas pepton yang dihasilkan, membuka jalan bagi produksi berkelanjutan dan terkontrol.















