Home Berita Olah Raga Bintang Sepak Bola Terjerat Narkoba, Siapa Saja?

Bintang Sepak Bola Terjerat Narkoba, Siapa Saja?

Sumbawanews.com,- Sejumlah pemain sepak bola Indonesia pernah terjebak dalam skandal penyalahgunaan narkoba, mengguncang kepercayaan publik terhadap integritas atlet di lapangan. Kasus-kasus ini tidak hanya merusak karier individu, tetapi juga menjadi cermin gelap dari tekanan dan kerentanan di balik sorotan kemenangan.

Pada 24 Juni 2026, seorang mantan pemain tim nasional U-23 ditangkap polisi di sebuah apartemen di kawasan Jakarta Selatan setelah ditemukan mengandung sabu dalam jumlah kecil saat razia mendadak. Ia sempat menjadi andalan di lini tengah pada ajang SEA Games 2023, namun kariernya kini terhenti akibat kasus ini. Penyelidikan masih berlangsung, dan ia kini menjalani proses hukum di bawah Pasal 112 Undang-Undang Narkotika.

Tak jauh berbeda, pada awal tahun ini, seorang striker berusia 26 tahun dari klub Liga 1 ditangkap di Bandung setelah terdeteksi positif narkoba dalam tes urin wajib yang dilakukan oleh PSSI. Ia sempat menjadi pencetak gol kunci di musim sebelumnya, namun keputusan federasi langsung mencabut kontraknya dan memberikan sanksi seumur hidup dari semua kompetisi resmi.

Kasus lain terjadi pada 2025, ketika dua pemain dari tim promosi Liga 2 ditangkap dalam operasi bersama BNN dan kepolisian di Surabaya. Mereka diduga menjadi kurir narkoba antar kota, menggunakan jaringan transportasi klub untuk mengedarkan barang haram. Dua pemain ini kini menjalani masa tahanan dan proses persidangan.

Belum lama ini, seorang eks pemain timnas senior yang kini berstatus pensiun mengaku dalam wawancara eksklusif bahwa tekanan finansial dan peran sebagai “idola remaja” menjadi pemicu utama kecanduan. “Kami dibuat seolah tak punya hak untuk lelah, sakit, atau gagal. Tapi tubuh dan pikiran punya batas,” ujarnya, meminta agar sistem pendampingan psikologis di klub-klub diperkuat.

Kementerian Pemuda dan Olahraga menyatakan telah menginstruksikan seluruh asosiasi olahraga untuk menerapkan program pencegahan narkoba sejak usia dini, termasuk pelatihan rutin bagi atlet, pelatih, dan staf pendukung. Namun, banyak pihak menilai upaya ini masih bersifat reaktif, bukan proaktif.

Di tengah maraknya kasus serupa, para pecinta sepak bola pun terpecah: sebagian menuntut hukuman tegas, sementara yang lain menyerukan rehabilitasi dan pemulihan, bukan hanya hukuman. Di balik setiap nama yang disebut, ada manusia—dengan mimpi, luka, dan kebutuhan akan pengertian, bukan hanya hukuman.

Kasus-kasus ini menjadi pengingat bahwa olahraga bukan hanya soal gol dan trofi, tapi juga soal kemanusiaan.

Previous articlePolda Metro Jaya Bongkar Jaringan Narkoba Terbesar, 17,46 Ton Disita
Next articleVinicius Jr Menang Taruhan, Sundulan Gol Buat Ancelotti Terkejut