Sumbawanews.com,- Puluhan pesawat tempur dan drone milik Amerika Serikat dilaporkan rusak atau hilang selama operasi militer di wilayah Timur Tengah sejak 28 Februari 2026, menurut laporan resmi dari Badan Riset Kongres AS. Kehilangan ini terjadi dalam rangkaian serangan balasan AS terhadap target militer Iran, yang memicu respons balik dari pasukan revolusioner Iran dan kelompok sekutunya di kawasan.
Dari data yang dihimpun, sebanyak 12 drone tempur MQ-9 Reaper dan 7 pesawat serang F-15E Strike Eagle mengalami kerusakan parah hingga tak bisa diperbaiki. Tiga pesawat F-35 Lightning II juga dilaporkan jatuh atau hilang kontak di atas wilayah perbatasan Irak-Iran, meski pihak Pentagon belum mengonfirmasi secara resmi kejadian tersebut. Selain itu, empat drone RQ-4 Global Hawk yang digunakan untuk pengintaian strategis dinyatakan hancur oleh rudal udara-ke-udara buatan Iran, termasuk sistem Sayyad-4B yang dikenal mampu menembak sasaran pada ketinggian hingga 30 kilometer.
Operasi militer ini bermula setelah serangan balasan Iran terhadap pangkalan udara AS di Irak menyusul pembunuhan seorang perwira tinggi Garda Revolusi di Damaskus. AS merespons dengan serangan udara presisi terhadap fasilitas rudal dan pusat komando di provinsi Kermanshah dan Khuzestan. Namun, pertahanan udara Iran yang telah diperbarui dengan teknologi anti-penerbangan canggih berhasil menembak jatuh sejumlah aset udara AS yang dianggap tak terkalahkan.
Laporan Kongres juga menyebut bahwa kerugian materiel ini menjadi yang terbesar sejak Perang Teluk 1991, sekaligus menandai titik balik dalam dinamika perang udara modern—di mana keunggulan teknologi tidak lagi menjamin keunggulan taktis. Para analis militer memperingatkan bahwa keberhasilan Iran dalam menembak jatuh pesawat generasi kelima dan drone strategis dapat menginspirasi negara-negara lain untuk mempercepat pengembangan sistem pertahanan udara berbasis rudal canggih.
Meski pemerintah AS belum mengumumkan jumlah pasti korban personel, sumber militer anonim mengatakan bahwa sejumlah pilot dan operator drone dilaporkan tewas atau tertangkap. Pihak Iran, di sisi lain, menampilkan rekaman video yang diklaim sebagai jejak puing pesawat AS di tanah perbatasan, sebagai bukti keberhasilan pertahanan mereka.
Dalam konteks geopolitik, kekalahan materiel ini memperkuat tekanan terhadap pemerintahan Presiden Donald Trump untuk segera menyelesaikan negosiasi damai dengan Teheran. Sementara itu, para anggota Kongres mulai mempertanyakan strategi militer AS di Timur Tengah, terutama dalam hal kesiapan logistik dan keandalan sistem pertahanan udara yang selama ini diandalkan.
Dengan konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda, dunia kini menyaksikan era baru perang udara—di mana kecepatan dan kekuatan bukan lagi satu-satunya penentu kemenangan, melainkan ketahanan, kecerdikan, dan kemampuan adaptasi di medan tempur yang semakin kompleks.

















