Sumbawanews.com,- William Saliba, bek tengah Arsenal berusia 25 tahun, dipastikan akan menjalani masa pemulihan panjang setelah mengalami cedera punggung saat membela Timnas Prancis di semifinal Piala Dunia 2026. Klub mengonfirmasi bahwa operasi tidak diperlukan, tetapi proses rehabilitasi intensif akan segera dimulai, membuatnya absen dalam periode yang cukup lama menjelang dimulainya musim baru Liga Inggris.
Saliba mengalami cedera dalam laga semifinal melawan Spanyol yang berakhir dengan kekalahan 0-2 bagi Prancis. Setelah kembali ke London, pemeriksaan medis menyeluruh oleh tim kesehatan Arsenal memastikan cedera terjadi pada area punggung tanpa memerlukan intervensi bedah. Namun, durasi pemulihan diperkirakan mencapai empat hingga lima bulan, sesuai laporan yang beredar, meski klub belum merilis jadwal pasti kembalinya sang pemain.
Dalam pernyataan resmi, Arsenal menegaskan bahwa Saliba akan segera memulai program rehabilitasi yang diawasi ketat oleh staf medis. Klub menyatakan harapan agar bek andalan itu bisa kembali ke kondisi optimal sesegera mungkin, meski dipastikan tidak akan tersedia untuk laga-laga awal musim 2026/2027. Saliba, yang menjadi pilar utama lini belakang Prancis di Piala Dunia dengan enam pertandingan starter dan empat clean sheet, menjadi kehilangan besar bagi Arsenal yang tengah mempersiapkan diri untuk tantangan di Premier League dan kompetisi Eropa.
Menyusul kepastian absennya Saliba, muncul kabar bahwa Arsenal mulai mempertimbangkan opsi penguatan lini belakang, termasuk kemungkinan merekrut John Stones, bek bebas transfer yang baru saja menyelesaikan dekade bersama Manchester City dan turut membela Inggris di Piala Dunia 2026. Dengan posisi bek tengah yang kini mengalami kekosongan strategis, keputusan transfer bisa menjadi kunci penting dalam upaya Arsenal mempertahankan posisi kompetitif di awal musim.
Sebagai salah satu pemain kunci sejak bergabung dari Saint-Etienne pada 2019, Saliba telah menjadi simbol konsistensi dan ketajaman defensif di bawah asuhan Mikel Arteta. Kehilangannya bukan hanya soal statistik, tetapi juga kestabilan taktis yang sulit digantikan dalam jangka pendek.















