Sumbawanews.com,- Pada musim gugur 2025, sekelompok orang tua kaya di New York City diundang ke serangkaian pertemuan eksklusif di Lower Manhattan. Mereka diajak melihat “sekolah masa depan” yang diklaim akan merevolusi pendidikan—dengan kekuatan kecerdasan buatan. Acara yang digelar oleh pendiri Alpha, MacKenzie Price, dan pemilik utama berkebangsaan miliarder Joe Liemandt, menawarkan janji-janji besar: pembelajaran yang disesuaikan secara personal, guru manusia yang tergantikan oleh algoritma, dan sistem pendidikan yang menghilangkan batasan kelas tradisional. Tujuannya jelas: meyakinkan para orang tua untuk meninggalkan sistem sekolah umum kota dan bergabung dengan institusi yang awalnya dipromosikan sebagai “sekolah swasta paling maju di New York.”
Namun, ada satu fakta yang sengaja disembunyikan dari presentasi mewah itu: Alpha School tidak memiliki izin sebagai sekolah. Tidak ada kurikulum yang diakui negara, tidak ada guru bersertifikat, tidak ada ruang kelas berstandar pendidikan. Yang ada hanyalah ruang kantor mewah di Manhattan, komputer canggih, dan platform AI yang menggantikan interaksi manusia dengan anak-anak. Alpha bukan sekolah—ia adalah proyek teknologi yang menyamar sebagai institusi pendidikan, dirancang untuk menarik dana dari kalangan elit yang ingin menguasai masa depan anak-anak mereka, bahkan jika itu berarti mengabaikan aturan dasar pendidikan.
Orang tua yang hadir dibuat percaya bahwa anak-anak mereka akan belajar dalam lingkungan “bebas dari standar kuno,” dengan AI yang memantau kemajuan setiap detik, menyesuaikan materi berdasarkan emosi dan kecepatan belajar, bahkan memprediksi minat karier sejak usia dini. Tapi ketika jurnalis mengecek keberadaan Alpha di database pendidikan negara bagian New York, tidak ada catatan resmi. Tidak ada akreditasi. Tidak ada pengawasan. Hanya sebuah perusahaan teknologi yang menjual mimpi—dengan harga $50.000 per tahun per siswa.
Pihak Alpha menolak memberikan penjelasan rinci tentang bagaimana sistem AI mereka bekerja, menutup akses ke kode sumber, dan menolak mengungkapkan siapa yang mengembangkan algoritma pembelajaran mereka. Ketika ditanya apakah anak-anak akan diawasi secara real-time melalui kamera dan mikrofon, mereka menjawab dengan kalimat ambigu: “Kami percaya pada kebebasan belajar yang didukung oleh teknologi yang transparan.” Tapi transparansi apa yang dimaksud, jika orang tua tidak pernah melihat bagaimana keputusan pendidikan anak mereka dibuat?
Di balik semua pameran teknologi itu, muncul pertanyaan yang lebih dalam: apakah pendidikan seharusnya menjadi komoditas yang dijual kepada yang mampu membayar, atau hak dasar yang harus dijamin untuk semua anak, tanpa memandang kekayaan orang tuanya? Alpha School bukan sekadar kegagalan regulasi—ia adalah simbol dari sebuah tren berbahaya: mengubah masa depan generasi muda menjadi produk eksklusif, yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang yang mampu membeli mimpi.
Di tengah krisis pendidikan publik yang semakin memburuk, proyek seperti Alpha bukanlah solusi. Ia adalah pengalihan perhatian—sebuah ilusi yang memanjakan elit, sementara sistem sekolah umum terus kekurangan dana, guru, dan harapan.

















