Sumbawanews.com,- Eks kiper Arema FC dan Bali United, Adilson Maringa, menjadi pemain asal Indonesia pertama yang tampil di UEFA Conference League setelah membela Valletta FC dalam laga kualifikasi melawan Raków pada 23 Juli 2026 dan leg kedua pada 30 Juli 2026. Meski Valletta kalah agregat 7-0 dan gagal melangkah ke babak selanjutnya, penampilan Maringa di kompetisi Eropa kasta ketiga itu mencatatkan sejarah bagi pemain yang pernah bersinar di Liga 1 Indonesia.
Maringa, penjaga gawang asal Brasil, memulai karier Eropanya setelah bergabung dengan Valletta FC, juara Malta Cup 2025/2026, yang berhak tampil di UEFA Conference League musim 2026/2027. Ia menjadi pilihan utama di bawah mistar pada dua leg kualifikasi melawan klub Polandia Raków. Pada leg pertama di Valletta, ia menjaga gawang saat timnya kalah 3-0. Seminggu kemudian, di kandang Raków, ia kembali tampil meski gawangnya dibobol empat kali, membuat agregat menjadi 7-0. Meski hasil akhir tak menguntungkan, keikutsertaannya di panggung Eropa menjadi bukti bahwa pemain dari Liga 1 mampu bersaing di level kontinental.
Sebelumnya, Maringa dikenal sebagai andalan kiper di dua klub besar Indonesia: Arema FC dan Bali United. Kedua klub tersebut menjadi batu loncatan karier profesionalnya sebelum pindah ke Malta pada musim 2025. Kehadirannya di UEFA Conference League membuka jalan bagi pemain Indonesia lain untuk mengejar mimpi serupa di benua biru.
Tak hanya Maringa, mantan striker Persijap Jepara, Carlos Franca, juga mencatatkan prestasi serupa di kompetisi Eropa. Pemain asal Brasil itu mencetak satu gol dan memberikan satu assist dalam empat penampilan bersama Ararat-Armenia di kualifikasi Liga Champions 2026/2027, membawa timnya lolos dari babak awal setelah mengalahkan Riga (Latvia) dan Shamrock Rovers (Irlandia). Franca menjadi pemain Indonesia pertama yang mencetak gol di kualifikasi Liga Champions, sekaligus menegaskan tren positif para eks pemain Liga 1 yang sukses bersinar di Eropa.
Dengan keberhasilan Maringa dan Franca, sepak bola Indonesia kini tak lagi hanya dikenal lewat penampilan di Asia Tenggara, tetapi juga sebagai sumber bakat yang mampu menembus panggung sepak bola Eropa.















