Sumbawanews.com,- Federasi Sepak Bola Hong Kong (HKFA) memasukkan Joshua Baker, pemain berusia 16 tahun, ke dalam daftar sementara 48 pemain untuk tim nasional Hong Kong menjelang FIFA ASEAN Cup 2026, pada periode jendela internasional September–Oktober 2026. Joshua, yang lahir dan dibesarkan di Hong Kong, adalah adik kandung Mitchell Baker, striker Timnas Indonesia. Meski memiliki darah Indonesia melalui keluarga, Joshua memegang paspor Hong Kong dan telah bermain untuk tim nasional usia muda Hong Kong, termasuk di Kualifikasi Piala Asia U-20 2027. Ia berposisi sebagai gelandang serang dan kini menjadi salah satu talenta muda paling menarik yang memiliki opsi internasional ganda—Hong Kong, Indonesia, atau bahkan Australia—sesuai regulasi FIFA. Masuknya Joshua dalam daftar sementara menunjukkan upaya Hong Kong untuk mengamankan masa depannya sejak dini, terutama mengingat sang kakak telah memilih membela Indonesia.
Daftar sementara HKFA mencakup sejumlah pemain berpengalaman dan muda, dengan Joshua tercatat di lini depan bersama nama-nama seperti Lau Chi Lok, Ng Yu Hei, Lee Lok Him, Manuel Rodriguez, Everton Camargo, Michael Chibuikem Udebuluzor, Raphael Ayrton Lee, dan Matthew Elliot Wing Kai Orr. Di lini tengah, HKFA membawa gelandang seperti Lam Hin Ting, Tan Chun Lok, Sohgo Ichikawa, Wu Chun Ming, Yu Jesse Joy Yin, Wong Wai, dan Barak Braunsthain. Sementara di belakang, nama-nama seperti Leung Wai Fung Derek, Yue Tze Nam, Christian Alexander Jojo, Nicholas Benavides, Oliver Gerbig, Callum Thomas Beattie, dan Jay Haddow menjadi pilar pertahanan. Untuk posisi kiper, HKFA memilih Yip Ka Yu, Pong Cheuk Hei, Shek Tuscany, Poon Sheung Hei, dan Tse Ka Wing.
Kehadiran Joshua dalam skuad ini memicu perhatian luas, mengingat dinamika keluarga yang langka di kancah internasional: dua bersaudara dengan potensi besar, tetapi mungkin memilih jalur berbeda di tim nasional. Jika Joshua akhirnya tampil bersama Hong Kong di FIFA ASEAN Cup 2026, ia akan menjadi pemain pertama dalam sejarah sepak bola Asia yang bersaing secara langsung dengan saudara kandungnya di tim nasional berbeda—dengan Mitchell yang sudah lebih dulu memperkuat Indonesia. Ini bukan hanya soal bakat, tapi juga keputusan identitas dan kebangsaan yang akan menjadi sorotan di masa depan.















