Sumbawa Besar, sumbawanews.com – Rabu (31/08) bertempat di panggung hiburan, Desa Tatede Kecamatan Lopok menggelar acara “Mangan Barema” (Makan Bersama). Kegiatan tersebut merupakan salah upaya Desa Tatede yang telah ditetapkan sebagai desa budaya, untuk melestarikan budaya leluhur.
Bupati Sumbawa dalam sambutannya yang disampaikan Asisten III, Dirmawan menyambut baik dan sangat mengapresiasi kegiatan tersebut. Sebab selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah swt , juga sebagai ajang untuk mempererat kebersamaan dan kekompakan antar warga masyarakat.
Selain itu, juga sebagai ikhtiar melestarikan dan membudayakan kearifan lokal. “Dan menguatkan karakter dan jati diri kita sebagai tau samawa di tengah pusaran arus globalisasi yang penuh tantangan dewasa ini,” katanya.
Diungkapkan, Tradisi Mangan Rame ini di zaman dahulu dilakukan oleh kaum hawa dengan cara menjunjung makanan atau sajian di atas kepalanya . Cara ini disebut “Junyung Pasaji “. kaum hawa dengan beriringan berjalan menuju tempat penjamuan sambil mengenakan pakaian adat.
” Alhamdulillah , hari ini kita menyaksikan , tradisi tersebut hidup kembali dengan diiringi rasa syukur kepada allah swt atas panen yang melimpah , warga masyarakat Tatede berinisiatif untuk bersama – sama menyiapkan sajian bagi para tamu yang hadir,” ujarnya.
Ia berharap, ikhtiar ini terus didukung oleh semua pihak , terutama masyarakat Desa Tatede dan Sekitarnya yang berada di wilayah Kecamatan Lopok ini. Serta tidak hanya berhenti di Kecamatan Lopok saja dan harus bisa menyebar dan menginspirasi ke berbagai Kecamatan lainnya di Kabupaten Sumbawa.
“Dan semoga ke depannya , tradisi mangan barema ini dapat menjadi salah satu Destinasi Wisata Budaya di Kabupaten Sumbawa,” katanya.
Ditempat yang sama, Ketua DPRD Sumbawa, Abdul Rafiq juga memberikan apresiasi dengan kegiatan tersebut. Sebab melalui kegiatan Mangan Rame, tradisi gotong royong dan kebersamaan dapat terjalin.
Ia menyebutkan, akhir akhir ini telah ramai destinasi wisata yang dikunjungi orang-orang luar. Sehingga tradisi lokal Mangan Berema bisa dijual sebagai icon dan bisa mendatangkan wisatawan ke Desa Tatede ini.
“Dan Pastinya akan ada ikutan-ikutan yang lain karena nggak mungkin masyarakat itu datang ke desa hanya ingin melihat, tapi tetapi kita harus menangkap peluang ketika mereka datang bagaimana kesiapan masyarakat kita, produk lokal UMKM kita, siap nggak untuk menerima mereka,” Ujar Rafiq.
Ia berharap, Mangan Barema dapat menjadi sebuah potensi unggulan. Sebab menjadi pekerjaan bersama untuk menjaga tradisi-tradisi leluhur nenek moyang.
“Dan saya berharap juga dengan tradisi ini kita kemas sedemikian rupa akan menjadi sebuah potensi unggulan apalagi membawa nilai spiritual yang sangat tinggi,” ucap Rafiq.
Selain itu, Mangan Barema tidak hanya menjadi kegiatan yang berlangsung sehari. Sehingga infrastruktur di desa Tatede perlu dikembangkan, sebagai salah satu faktor yang saling mengaitkan.
“janganlah hanya sekedar hari ini, tidak ada langkah-langkah lain yang kita lakukan. termasuk Bagaimana infrastrukur di Desa Tatede juga perlu kita kembangkan karena ini akan terkait satu sama lain. budaya kita bagus tetapi aspek yang lain tidak mendukung itu akan mengurangi nilai dari budaya lokal yang akan kita promosikan tersebut,” urainya.
Camat Lopok, Ulumuddin mengatakan, Mangan Rame merupakan penerapan wujud syukur masyarakat kepada Allah SWT, yang telah melimpahkan hasil panen pertanian. Sebab sebagian besar masyarakat kecamatan Lopok, khususnya desa Tatede merupakan petani.
“Saya atas nama Pemerintah Kecamatan menyampaikan penghargaan dan terima kasih atas kehadiran Bapak Bupati atau pejabat yang mewakili, Bapak Ketua DPRD kabupaten Sumbawa, di mana Bapak Bupati dan Bapak Ketua DPRD merupakan pimpinan daerah tentunya masyarakat kami pada kesempatan ini merasa sangat tersanjung, itulah ungkapan perasaan dan hati dari masyarakat kami khususnya masyarakat desa Tatede dan lebih umum masyarakat kecamatan Lopok,” ucapnya. (Using)

















