Sumbawanews.com,- Badai musim dingin pertama melanda Jalur Gaza pada Sabtu (7/11/2026), merendam sekitar 70.000 tenda tempat berlindung warga Palestina yang mengungsi dalam waktu 12 jam. Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan kerugian awal mencapai USD 3 juta, dengan puluhan tembok runtuh, bangunan retak yang terancam ambruk, dan sejumlah warga mengalami luka-luka. Badan Pertahanan Sipil Gaza menyebut menerima 1.500 panggilan darurat dalam 10 jam pertama hujan, sementara genangan air di beberapa kamp mencapai 30–40 sentimeter. Para pengungsi, termasuk bayi prematur, lansia, dan orang sakit, kini terpaksa mengungsi lagi tanpa tahu ke mana harus pergi.
Kantor Pemerintah Gaza menyalahkan Israel atas bencana ini, menuduh negara itu terus menutup jalur perlintasan dan menghalangi masuknya material untuk membangun tempat penampungan yang layak. Direktur Badan Pertahanan Sipil Gaza, Raed al-Dahshan, mengakui pihaknya tidak memiliki satu tenda atau terpal pun untuk membantu korban banjir. Sementara itu, jurnalis Al Jazeera melaporkan bahwa ribuan keluarga tinggal di tenda-tenda tua yang sudah dipakai empat tahun dan terus diperbaiki ulang, terutama di kawasan pesisir seperti al-Mawasi, yang rentan disapu air laut. Lebih dari 125.000 keluarga di pesisir Gaza berada dalam bahaya langsung.
Sistem kesehatan yang sudah rapuh semakin terpuruk. Direktur Kompleks Medis al-Shifa, Mohammed Abu Salmiya, mengatakan instalasi gawat darurat rumah sakit terendam banjir selama empat jam, memperbesar risiko wabah infeksi saluran pencernaan, pernapasan, dan penyakit kulit akibat air limbah bercampur hujan. Menurut Direktur Jaringan Organisasi Nonpemerintah Palestina, Mohammed Salha, hanya sekitar 40 dari 180–200 truk bantuan yang masuk setiap hari membawa bantuan kemanusiaan, jauh di bawah kesepakatan gencatan senjata yang menargetkan 600 truk per hari. Sebanyak 50.000 tenda masih terjebak di perbatasan Mesir, sementara protokol kemanusiaan yang menjanjikan penggantian tenda dengan karavan belum diwujudkan karena larangan Israel.
Seorang pengungsi di pantai Gaza mengungkapkan keputusasaan: “Mereka mendesak kami ke arah barat, menuju laut. Mengapa mereka tidak langsung saja melemparkan kami ke laut dan menyelesaikan semuanya?”















