Sumbawanews.com,- Timur Tengah kembali menghadapi ancaman konflik militer yang berpotensi meluas, menyusul perintah Mojtaba Khamenei agar Iran merespons serangan apa pun dengan balasan tanpa batas geografis. Pernyataan itu muncul di tengah ketegangan meningkat menjelang pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November 2026, ketika pemerintahan Presiden Donald Trump dilaporkan mempertimbangkan serangan militer terhadap Iran, sementara Teheran bersiap membalas di mana pun targetnya berada.
Washington belum mengumumkan keputusan serangan, tetapi telah memperingatkan negara-negara Teluk untuk bersiap menghadapi kemungkinan serangan balasan Iran terhadap fasilitas energi, pangkalan militer, dan infrastruktur strategis. Laporan dari tiga pejabat senior negara-negara Arab Teluk menyebut operasi militer AS bisa dimulai paling cepat pada 4 November, sehari setelah pemilu, meski tanggal itu belum dikonfirmasi resmi. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa Trump masih mempertahankan jalur diplomatik, tetapi tidak menutup kemungkinan operasi militer jika dianggap perlu.
Di lapangan, Pentagon telah mengerahkan Kapal Induk USS Theodore Roosevelt bersama sejumlah kapal pendarat amfibi dan sekitar 9.000 personel Marinir menuju Teluk Persia, dengan potensi peningkatan hingga lebih dari 20.000 personel dan ratusan pesawat tempur. Sementara itu, Iran, melalui Mojtaba Khamenei, menekankan bahwa aset militer AS di seluruh dunia berada dalam jangkauan balasan, menandai pergeseran strategi dari respons terbatas ke pendekatan yang menargetkan kepentingan AS secara global.
Negara-negara Teluk, yang khawatir konflik akan memicu perang regional, mendorong AS untuk memilih deeskalasi. Namun, dengan perintah balasan tanpa batas dari pimpinan militer Iran, ketidakpastian semakin menguat, dan dunia menanti apakah pemilu AS akan menjadi titik balik menuju perang atau justru jembatan bagi negosiasi.















