Sumbawanews.com,- Pada 28 Oktober 1891, gempa bumi berkekuatan magnitudo 8,0 mengguncang wilayah Mino dan Owari, Jepang—kini bagian dari Prefektur Aichi—menyebabkan kerusakan masif dan menewaskan lebih dari 7.000 orang. Gempa yang dikenal sebagai Gempa Nobi atau Gempa Besar Nobi ini terjadi dini hari, memicu patahan permukaan bumi yang terlihat jelas selama beberapa kilometer. Wilayah yang paling parah terdampak adalah Kabupaten Motosu, di mana 61 desa dan kota kecil dengan populasi sekitar 33.000 jiwa berada tepat di hiposenter gempa. Studi dari Astrophysics Data System Harvard memastikan korban jiwa mencapai angka lebih dari 7.000, sementara integrasi administratif yang terjadi sebelumnya pada 1888–1889 mengurangi jumlah unit permukiman dari 71.314 menjadi 15.859, memperdalam dampak kehancuran. Fenomena patahan permukaan yang terbentuk memberi ilmuwan kesempatan langka untuk mempelajari mekanisme gempa darat, memperkuat pemahaman geologi tentang tektonik di Jepang.















