Sumbawanews.com,- Yayasan Hind Rajab (HRF) mendesak pemerintah Amerika Serikat menangkap dan mengadili komandan militer Israel, Sean Glass, yang diduga memerintahkan penembakan terhadap bocah Palestina Hind Rajab pada 29 Januari 2024 di Jalur Gaza. Permintaan darurat diajukan ke Departemen Kehakiman AS setelah Glass dilaporkan berada di wilayah Amerika Serikat. HRF, organisasi berbasis Brussel, menyatakan Glass memimpin Kompi Vampire Empire dari Batalion Lapis Baja ke-52, yang berada di lokasi saat kendaraan yang ditumpangi Hind ditembaki. Organisasi itu menduga Glass memberikan perintah langsung untuk menembak kendaraan tersebut, dengan bukti yang disebut “sangat memberatkan dan luas”.
HRF menekankan bahwa keberadaan Glass di AS membuka peluang hukum bagi otoritas setempat untuk menjalankan kewajiban internasional sebagai pihak dalam Konvensi Genosida dan Konvensi Jenewa. Dukungan datang dari anggota DPR AS Rashida Tlaib, yang menegaskan pemerintah AS tidak boleh mengabaikan dugaan kejahatan perang hanya karena pelaku berasal dari negara sekutu. Penyelidikan Forensic Architecture menemukan 335 peluru menghantam kendaraan itu tanpa tanda baku tembak, memperkuat dugaan bahwa serangan itu bersifat satu arah. Hind, yang masih hidup setelah tembakan, sempat meminta pertolongan lewat telepon sebelum dua paramedis yang datang menyelamatkannya juga tewas. Jenazah Hind, keluarganya, dan paramedis baru ditemukan 12 hari kemudian. Rekaman suara Hind yang ketakutan menjadi simbol global penderitaan anak-anak Palestina. Hingga kini, Departemen Kehakiman AS belum memberikan tanggapan resmi atas permintaan penangkapan tersebut.















