Sumbawanews.com,- Survei Reuters/Ipsos merilis data terbaru yang menunjukkan popularitas Presiden Amerika Serikat Donald Trump anjlok ke titik terendah sepanjang masa jabatannya, dengan tingkat kepuasan hanya 31 persen. Kondisi ini memperlebar keunggulan Partai Demokrat atas Partai Republik sebesar 12 poin dalam pemilu paruh waktu, dengan 47 persen pemilih memilih Demokrat dan 35 persen memilih Republik. Penurunan dukungan terutama didorong oleh ketidakpuasan terhadap kenaikan biaya hidup dan kebijakan perang AS-Israel melawan Iran, yang dinilai semakin tidak populer di kalangan publik. Survei terhadap 1.679 orang dewasa ini juga mengungkap bahwa lebih banyak warga percaya Demokrat mampu mengelola perekonomian, dengan 40 persen memilih partai tersebut dibandingkan 33 persen untuk Republik.
Tingkat kepuasan Trump yang terendah dalam sejarah kepresidenannya memperkuat prediksi bahwa Partai Republik berisiko kehilangan kendali atas Dewan Perwakilan Rakyat dan Senat AS dalam pemilu 3 November mendatang. Saat ini, Republik memimpin tipis di DPR dengan 218 kursi versus 214 milik Demokrat, serta di Senat dengan 53 kursi lawan 47. Namun, proyeksi NBC News memperkirakan Demokrat berpotensi merebut lima kursi Senat dan 22 kursi DPR jika berhasil memenangkan semua distrik yang masih terbuka. Penurunan popularitas Trump juga sejalan dengan pola historis di mana partai yang berkuasa kerap kehilangan kursi menjelang pemilu paruh waktu, terutama ketika tingkat kepuasan presiden di bawah 50 persen.
Ketidakpuasan terhadap pemerintahan Trump semakin diperdalam oleh pergeseran dukungan dari pemilih perempuan, yang sekitar separuhnya menyatakan akan memilih Demokrat. Data dari University of California, Santa Barbara, menunjukkan bahwa presiden dengan popularitas di bawah 50 persen hampir selalu menghadapi kerugian besar bagi partainya dalam pemilu paruh waktu, seperti yang terjadi pada Presiden Bill Clinton pada 1994. Meski exit poll sering menunjukkan tingkat kepuasan sedikit lebih tinggi daripada survei sebelum pemilu, para analis memperingatkan bahwa mobilisasi pemilih akan menjadi kunci menentukan hasil akhir. Dengan popularitas yang terus merosot, pemerintahan Trump kini menghadapi tantangan terberat dalam mempertahankan kendali Kongres.















