Home Berita Nasional Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumsel Masih Mengancam, Api Tidak Benar-benar Padam

Kebakaran Hutan Kalimantan dan Sumsel Masih Mengancam, Api Tidak Benar-benar Padam

Sumbawanews.com,- Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan dan Sumatra Selatan belum juga mereda meski pemadaman telah berlangsung berminggu-minggu, dengan titik panas terus bermunculan dan asap tebal menyelimuti wilayah hingga ke negara tetangga. Menurut Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Barton Panjaitan, api yang tampak padam di permukaan sering kali masih menyala di dalam lapisan gambut, yang membuat kebakaran bisa kembali menyala kapan saja. Cuaca kering, angin kencang, dan karakteristik tanah gambut yang dalam menjadi tiga faktor utama yang memperparah situasi, membuat upaya pemadaman membutuhkan waktu jauh lebih lama dan pendekatan yang lebih komprehensif.

Lapisan gambut yang terbakar mampu menyimpan bara panas di bawah permukaan tanah, bahkan setelah kobaran api di atasnya tampak hilang. Untuk memastikan api benar-benar padam, petugas harus melakukan pendinginan dan pembasahan menyeluruh, serta memeriksa setiap area yang pernah terbakar untuk menemukan sisa bara yang mungkin masih aktif. Proses ini memerlukan pasokan air yang cukup, peralatan khusus, dan waktu yang panjang—terutama di lokasi dengan lapisan gambut yang tebal. Tanpa langkah ini, api bisa kembali menyala saat kondisi cuaca kembali kering dan tersedia oksigen.

Kondisi cuaca yang minim hujan mempercepat pengeringan vegetasi dan lapisan organik tanah, sehingga api lebih mudah menyebar. Angin yang bertiup kencang tidak hanya mempercepat penyebaran api, tetapi juga membawa asap hingga ke wilayah jauh, termasuk Malaysia dan Singapura. Ketika beberapa titik kebakaran aktif secara bersamaan, asap dari berbagai lokasi bergabung membentuk kabut tebal yang menurunkan jarak pandang hingga di bawah seribu meter—bahkan mencapai ratusan meter pada jam-jam kritis pagi dan sore. Hal ini mengganggu keselamatan penerbangan, transportasi darat, dan sungai.

Kualitas udara di sejumlah daerah terdampak masuk dalam kategori Tidak Sehat hingga Berbahaya, dengan konsentrasi PM2.5 melampaui ambang batas aman. Partikel halus ini berisiko tinggi bagi kesehatan, terutama bagi balita, lansia, dan penderita penyakit pernapasan. Penanganan karhutla tidak bisa lagi hanya mengandalkan operasi pemadaman dari udara seperti water bombing. Satgas darat tetap menjadi kunci utama dalam memastikan pendinginan menyeluruh dan pemantauan berkelanjutan untuk mencegah kebakaran berulang.

Menurut Barton, keberhasilan penanganan karhutla tidak diukur dari seberapa cepat api di permukaan padam, tetapi dari kemampuan sistem untuk mencegah kebakaran kembali muncul dan mengendalikan dampak asap terhadap masyarakat luas.

Previous articleMenteri Tenaga Kerja Jerman Mundur Usai Dituding Saat Berduka
Next articleLille Hadapi Arsenal, Calvin Verdonk Siap Uji Nyali Bukayo Saka