Sumbawanews.com,- Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh masyarakat melakukan pertobatan ekologis berkelanjutan dengan memperluas persaudaraan antar makhluk ciptaan Tuhan, atau ukhuwah makhluqiyah. Ajakan itu disampaikannya dalam acara “Tobat Ekologis Menuju Sekolah Adiwiyata” yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, pada Senin, 12 Oktober 2026. Ia menegaskan bahwa kerusakan alam bukan sekadar masalah teknis, melainkan kegagalan spiritual yang bertentangan dengan ajaran semua agama. Menurutnya, kitab suci—termasuk Al-Qur’an—menyatakan bahwa seluruh alam semesta senantiasa bertasbih memuji Sang Pencipta, sehingga hubungan manusia dengan alam harus dibangun berdasarkan etika teologis, bukan pandangan sekuler yang memandang alam sebagai benda mati.
Nasaruddin mengkritik pandangan sekuler abad ke-18-19 yang menganggap alam sebagai objek eksploitasi, dan mencontohkan kearifan lokal nenek moyang Nusantara yang memperlakukan hutan, laut, dan pohon sebagai sahabat, bukan sumber daya semata. Ia menekankan bahwa cara tradisional dalam membaca tanda-tanda alam dan memanfaatkan kekayaan botani secara arif adalah bentuk pengamalan iman yang luhur. Dalam konteks ini, frasa Bismillahirrahmanirrahim harus dipahami sebagai panggilan untuk bertindak dengan kasih sayang, bukan dengan dominasi destruktif. Manusia, sebagai khalifah di bumi, ditempatkan bukan sebagai perusak, melainkan penjaga keseimbangan alam.
Ia memperingatkan bahwa eksploitasi berlebihan—seperti penggundulan hutan, penggalian gunung, dan pengalihan fungsi ekosistem demi keuntungan ekonomi—akan mempercepat datangnya bencana. “Semakin kalian tidak bersahabat dengan alam, maka Anda akan mengundang kiamat itu datang lebih awal,” ujar Nasaruddin. Baginya, merawat lingkungan bukan sekadar kebijakan lingkungan, tapi wujud nyata ibadah dan implementasi konsep ekoteologi dalam kehidupan sehari-hari.















