Sumbawanews.com,- Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir menegaskan bahwa setiap hasil diplomasi Indonesia harus berdampak nyata pada kesejahteraan rakyat, hingga ke tingkat rumah tangga. Ia menekankan bahwa keberhasilan kebijakan luar negeri diukur dari sejauh mana ia mampu mendukung ketahanan nasional dan agenda pembangunan pemerintah, khususnya dalam kerangka transformasi strategis Presiden Prabowo Subianto. Diplomasi, kata Arrmanatha, tidak boleh hanya berhenti di meja perundingan, tetapi harus terasa dalam akses pangan, energi, investasi, dan teknologi yang menopang kehidupan sehari-hari masyarakat.
Untuk mewujudkan hal itu, Indonesia memperkuat kerja sama bilateral dengan sejumlah negara. Dengan Jepang dan Korea Selatan, Indonesia meningkatkan produksi beras, sementara kerja sama dengan Vietnam fokus pada investasi peternakan sapi perah. Di sektor energi, kolaborasi dengan Jepang mencakup pengembangan pembangkit listrik tenaga thorium dan panas bumi, sementara dengan Republik Rakyat China, Indonesia membangun ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi. Di bidang digital, sistem pembayaran QRIS kini telah berfungsi lintas batas di Thailand, Malaysia, China, dan Jepang.
Indonesia juga meningkatkan status kemitraan strategis dengan Thailand, Mesir, dan Rusia, serta menjadikan hubungan dengan Vietnam dan Prancis sebagai kemitraan strategis komprehensif. Tahun ini, Indonesia untuk pertama kalinya menggelar dialog 2+2 dengan Turki dan merencanakan dialog serupa dengan Korea Selatan dan Qatar. Arrmanatha menekankan bahwa konsistensi prinsip, kemampuan menjalin hubungan dengan berbagai pihak, dan orientasi pada kepentingan rakyat menjadi fondasi utama diplomasi Indonesia di tengah dinamika global yang terus berubah.















