Sumbawanews.com,- Laporan International IDEA mengungkap bahwa indeks demokrasi Amerika Serikat jatuh ke level terendah dalam lima dekade, didorong oleh perluasan kekuasaan eksekutif di bawah Presiden Donald Trump yang memperlemah supremasi hukum dan menggerogoti kepercayaan publik terhadap lembaga demokrasi. Tahun 2025 menjadi tahun ke-11 berturut-turut di mana lebih banyak negara mengalami kemunduran demokrasi daripada perbaikan, dengan AS menjadi simbol utama tren global yang memprihatinkan. Independensi peradilan, kredibilitas pemilu, kebebasan pers, dan akses terhadap keadilan kini berada pada titik terendah dalam tiga puluh tahun. Lembaga ini menekankan bahwa perkembangan politik di AS tidak hanya memperburuk kondisi dalam negeri, tetapi juga memperkuat pola penolakan terhadap hasil pemilu dan melemahkan aliansi multilateral di seluruh dunia.
Kemerosotan ini tercatat pertama kali pada 2021, ketika International IDEA memasukkan AS ke dalam kategori demokrasi yang mengalami “kemunduran”, dan sejak 2019 telah terjadi erosi sistemik terhadap norma-norma demokratis. Sekretaris Jenderal International IDEA, Kevin Casas-Zamora, memperingatkan bahwa penurunan kualitas demokrasi beriringan dengan meningkatnya risiko konflik, sebagaimana ditunjukkan oleh data Uppsala Conflict Data Program yang mencatat 2025 sebagai tahun dengan jumlah konflik kekerasan terbanyak sejak 1946. Meski demikian, ia menegaskan bahwa kemerosotan ini bukanlah takdir permanen, dan masih ada ruang bagi pemulihan melalui gerakan sipil yang gigih.
Di tengah kegelapan, laporan itu juga mencatat sejumlah terang: di Australia, masyarakat sipil dilibatkan dalam konsultasi kebijakan anti-rasisme dan privasi anak daring; di Suriah, rezim diktator Bashar al-Assad tumbang; dan di Bangladesh, Nepal, serta Sri Lanka, protes pemuda berhasil menggulingkan pemimpin berkuasa lama. Namun, upaya reformasi mendalam tetap sulit diwujudkan dalam waktu singkat. Ruang sipil secara global semakin menyempit akibat gugatan strategis, undang-undang agen asing, dan kriminalisasi terhadap aksi protes damai.
Casas-Zamora menegaskan, “Whatever happens in the US goes global,” menyoroti bagaimana perilaku politik di Gedung Putih menjadi teladan bagi gerakan anti-demokrasi di berbagai belahan dunia. Meski tantangan besar menghampiri, ia menekankan bahwa momentum politik positif masih mungkin muncul jika masyarakat dan pemimpin bersedia berinvestasi kembali pada nilai-nilai demokrasi.















