Sumbawanews.com,- Para ilmuwan berhasil mengidentifikasi empat awak Ekspedisi Franklin yang hilang pada 1845 melalui analisis DNA, mengungkap misteri yang bertahan lebih dari satu abad. Keempat awak tersebut adalah Harry Peglar dari kapal Terror, serta William Orren, David Young, dan John Bridgens dari kapal Erebus. Identifikasi ini meningkatkan total awak yang berhasil diidentifikasi secara genetik menjadi enam orang, dengan tiga di antaranya ditemukan di Teluk Erebus dan satu—Peglar—ditemukan 130 kilometer jauhnya di Pulau King William, Kanada. Dokumen pribadi yang ditemukan bersama jenazah Peglar, dikenal sebagai “Peglar Papers,” menjadi satu-satunya catatan tertulis eksklusif dari ekspedisi tersebut.
Penelitian yang dipimpin oleh tim antropolog dari Universitas Waterloo ini membandingkan DNA dari sisa kerangka dengan sampel dari keturunan langsung, menemukan kecocokan genetik sempurna pada keempat kasus. Peglar, yang sebelumnya diragukan identitasnya karena pakaian yang tidak sesuai pangkatnya, kini dikonfirmasi sebagai Kapten Foretop di Terror. Sementara itu, jenazah Orren, Young, dan Bridgens mengonfirmasi bahwa mereka bertahan selama tiga tahun pertama ekspedisi sebelum mencoba melarikan diri. Tidak ada bukti kanibalisme pada keempat jenazah ini, berbeda dengan temuan sebelumnya pada jenazah Kapten James Fitzjames.
Salah satu keturunan, Rich Preston, seorang jurnalis BBC, terkejut mengetahui bahwa dirinya adalah cucu dari John Bridgens setelah menyumbangkan sampel DNA. Peneliti menekankan bahwa keberhasilan identifikasi bergantung pada silsilah keturunan yang tercatat secara langsung, baik melalui garis ibu atau ayah. Studi ini dipublikasikan dalam dua jurnal ilmiah: Journal of Archaeological Science: Reports dan Polar Record. Tim peneliti terus mengajak keturunan lain dari awak ekspedisi untuk berpartisipasi, demi mengungkap identitas jenazah yang masih belum dikenal.















