Sumbawa Barat, sumbawanews.com — Stan Kuli Farm dalam ajang Ekspo Karya tidak hanya menjadi ruang untuk memamerkan produk dan inovasi pengelolaan sampah. Kunjungan anggota DPR ke stan tersebut juga dimanfaatkan Kuli Farm untuk menyampaikan gagasan tentang perlunya perubahan tata kelola persampahan di Kabupaten Sumbawa Barat.
Dalam pertemuan tersebut, Kuli Farm memperkenalkan sejumlah praktik yang selama ini dijalankan, mulai dari Bank Sampah, Rumah Magot, pengomposan, hingga pengelolaan sampah plastik bernilai jual rendah.
Baca Juga: Dari Sampah, Kopi, sampai Pilkades
Pendiri Kuli Farm, Alimuddin, mengatakan persoalan sampah tidak semestinya hanya dilihat sebagai persoalan kebersihan, tetapi juga sebagai peluang ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
“Kami ingin menunjukkan bahwa pengelolaan sampah bukan hanya persoalan kebersihan. Di dalamnya ada peluang ekonomi, pemberdayaan masyarakat dan penciptaan lapangan kerja,” ungkap Alimuddin, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan komunitas perlu membangun sistem pengelolaan sampah yang mendorong pemilahan dan pengolahan sejak dari sumbernya.
Kuli Farm mendorong perubahan pola pengelolaan sampah yang selama ini lebih banyak mengandalkan sistem jemput–angkut–buang menuju pola pilah–jemput–olah.
“Selama ini kita sudah larut dengan sistem jemput, angkut, buang. Perlu ada kebijakan sehingga pola ini kita rubah secara perlahan menjadi pilah, jemput, olah,” jelasnya.
Alimuddin menilai pengelolaan sampah seharusnya dimulai dari sumbernya, baik rumah tangga, kantor, hotel, sekolah, pasar maupun fasilitas publik. Dengan pemilahan sejak awal, tidak semua sampah harus berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Sampah organik, kata dia, dapat diolah melalui Rumah Magot dan pengomposan. Sementara sampah anorganik yang memiliki nilai ekonomi dapat disalurkan melalui Bank Sampah.
Sedangkan sampah plastik bernilai jual rendah dapat diarahkan pada pengolahan lanjutan, termasuk teknologi pirolisis, dengan tetap memperhatikan jenis material, standar keselamatan dan ketentuan lingkungan yang berlaku.
Komunitas Perlu Menjadi Mitra Pemerintah
Kuli Farm juga mendorong pemerintah untuk membuka ruang yang lebih besar bagi kelompok masyarakat dan komunitas dalam pengelolaan sampah.
Menurut Alimuddin, komunitas seperti Kuli Farm tidak semestinya hanya dipandang sebagai penerima bantuan, tetapi dapat menjadi mitra pemerintah dalam membangun sistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.
Ia juga menyoroti pentingnya perubahan orientasi anggaran persampahan. Menurutnya, anggaran tidak seharusnya sebagian besar hanya terserap untuk kegiatan pengangkutan sampah. “Kita perlu investasi pada sarana pemilahan, pengolahan, edukasi, insentif masyarakat dan penguatan unit usaha pengelola sampah,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Kuli Farm turut memperlihatkan sejumlah inovasi wadah pemilahan sampah yang dapat digunakan langsung dari sumbernya.
Di antaranya SinerBox, wadah pengolahan sampah makanan skala kecil berbasis magot, serta Botasi Bag, wadah khusus untuk mengumpulkan sampah plastik seperti botol PET.
Ali berharap gagasan yang disampaikan dalam pertemuan tersebut dapat menjadi bahan pembahasan lebih lanjut di tingkat kebijakan.
Ia menegaskan, persoalan sampah membutuhkan perubahan sistem, bukan sekadar kegiatan seremonial. “Dari kumpul, angkut, buang menuju pilah, jemput, olah. Dengan begitu, sampah tidak menjadi masalah baru, tetapi bisa menjadi keberkahan bagi makhluk lainnya,” pungkasnya. (Al)













