Sumbawanews.com,- Industri smartphone global mengalami goncangan terbesar sepanjang sejarah akibat kelangkaan memori DRAM dan NAND yang berlangsung sepanjang 2026. Kenaikan biaya komponen hingga 300 persen secara tahunan pada kuartal II-2026 memicu lonjakan harga rata-rata ponsel global mencapai USD 581 atau sekitar Rp 10,3 juta, naik 27,6 persen. Produsen terpaksa melakukan penyesuaian spesifikasi secara terselubung—mulai dari mempertahankan RAM 12GB pada kelas flagship hingga menurunkan kapasitas memori hingga 4GB pada ponsel entry-level. Di Indonesia, kenaikan harga berkisar 7 hingga 45 persen, dengan pengiriman ponsel di bawah Rp 2,7 juta anjlok 19 persen, sementara segmen premium di atas Rp 10,6 juta justru tumbuh 30 persen.
Krisis ini disebabkan pergeseran produksi memori global yang dialihkan ke high-bandwidth memory (HBM) demi memenuhi kebutuhan pusat data kecerdasan buatan, yang menawarkan margin keuntungan lima kali lipat lebih tinggi. Sekitar 70 persen produksi memori dunia kini diserap oleh sektor AI, membuat pasokan untuk perangkat konsumen terbatas. Lembaga riset IDC memproyeksikan pengiriman smartphone global tahun ini turun 16,7 persen—penurunan tahunan paling tajam yang pernah tercatat. Senior Research Director IDC, Nabila Popal, menegaskan bahwa era smartphone ultramurah telah berakhir, dan keterbatasan pasokan diperkirakan bertahan hingga 2028 atau bahkan melewati 2030.
Konsumen di Tanah Air, terutama kelas bawah, mulai menunda pembelian atau beralih ke ponsel bekas, meski indikator ekonomi nasional membaik. Analis Counterpoint Research, Shilpi Jain, menyatakan bahwa penurunan penjualan dipicu oleh mahalnya komponen, bukan melemahnya daya beli. Untuk menghindari kerugian jangka panjang, pakar menyarankan konsumen tidak lagi tergoda oleh angka RAM atau chipset, melainkan fokus pada tiga hal: daya tahan baterai dalam jangka 2–3 tahun, konsistensi performa sistem operasi setelah satu tahun penggunaan, dan komitmen produsen terhadap pembaruan keamanan serta ketersediaan suku cadang.















