Sumbawanews.com,- Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) melaporkan jumlah pengguna domain .id telah mencapai 1.523.540 per 1 September 2026, resmi mengungguli popularitas domain .com di pasar domestik. Capaian ini menjadi tonggak sejarah dalam 20 tahun kiprah PANDI, yang kini menempatkan .id sebagai identitas digital utama masyarakat Indonesia. Pangsa pasar .id meningkat dari 36% menjadi 58% dalam lima tahun terakhir, menunjukkan kepercayaan yang semakin kuat terhadap alamat web lokal. Ketua PANDI, Isnawan Aslam, menegaskan bahwa pertumbuhan ini tidak hanya mencerminkan adopsi teknologi, tetapi juga kedaulatan digital bangsa.
Isnawan menjelaskan bahwa domain .id tidak lagi sekadar alamat web, melainkan identitas fleksibel yang digunakan bahkan oleh mitra asing untuk branding dan identitas digital. Ia mencontohkan, pada 2007 jumlah domain .id baru sekitar 100.000, lalu naik ke 500.000, dan kini tembus lebih dari 1,5 juta. PANDI menilai potensi pasar masih sangat besar, mengingat rasio global menunjukkan Indonesia idealnya memiliki 13 hingga 14 juta domain, sehingga adopsi lokal perlu terus didorong.
Dalam hal infrastruktur, PANDI telah sepenuhnya mengoperasikan Sistem Registry Mandiri (SRM) sejak 2020 tanpa ketergantungan pada pihak asing. Infrastruktur DNS PANDI kini tersebar di 15 negara dan 23 wilayah global, didukung lebih dari 300 lokasi penyedia DNS, dengan tingkat keandalan operasional mencapai 99,95 hingga 100 persen. Sistem ini mampu menangani hingga 125.000 kueri per detik, setara dengan 77 miliar trafik internet per bulan.
Untuk keamanan siber, PANDI meluncurkan platform Indonesia Domain Abuse Data Exchange (IDADX) yang pada 2026 telah memproses 24.450 kasus penyalahgunaan domain, termasuk 6.495 kasus judi online, 961 penyebaran malware, dan 9.400 domain yang disusupi. Domain .id juga telah ditetapkan sebagai Infrastruktur Informasi Vital (IIV) nasional, bekerja erat dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
PANDI kini mengejar evolusi .id menjadi Trust Identifier dalam ekosistem ekonomi digital, didukung integrasi teknologi blockchain melalui ID Chain dan pendaftaran aksara Nusantara seperti Aksara Bali ke ICANN. “Domain .id bukan sekadar alamat, tapi aset digital bangsa. Dengan infrastruktur mandiri, komunikasi digital lokal tetap hidup bahkan dalam situasi darurat global,” tutup Isnawan.















