Sumbawanews.com,- Kebakaran hutan dan lahan yang kembali meluas di sejumlah wilayah Indonesia, terutama Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua Selatan, mengancam keanekaragaman hayati, mengganggu tata air gambut, dan melepaskan karbon besar ke atmosfer dalam jangka panjang. Pakar kehutanan dari Universitas Muhammadiyah Malang, Tatag Muttaqin, menjelaskan bahwa kebakaran berulang membuat hutan kehilangan kesempatan pulih alami, mengubah struktur vegetasi, dan memicu dominasi spesies yang tahan api. Di lahan gambut, api merusak lapisan organik sekaligus fungsi hidrologinya, menciptakan lingkaran kekeringan yang membuat tanah semakin mudah terbakar kembali. Dampaknya tidak hanya lokal—pelepasan karbon besar berkontribusi terhadap perubahan iklim global.
Menurut Tatag, penanganan karhutla harus bergeser dari fokus memadamkan api menuju pencegahan sistematis, pengelolaan lanskap berkelanjutan, dan penegakan hukum yang konsisten. Sistem peringatan dini perlu terintegrasi dengan tindakan lapangan, sementara pengelolaan lahan gambut harus menjamin kelembapan tanah. Masyarakat di sekitar hutan perlu dilibatkan melalui edukasi, insentif, dan alternatif pengelolaan lahan tanpa pembakaran. Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, menyoroti lonjakan titik panas yang drastis: Kalimantan Barat mencatat 4.874 titik pada Juli 2026—naik 1.897 persen dari Juni—sedangkan Papua Selatan mencatat 4.220 titik, meningkat 457 persen. Di Kalimantan Tengah, titik panas melonjak dari rata-rata 200 per bulan menjadi 2.821 dalam satu bulan. Putra mendesak pemerintah segera mengevaluasi izin konversi lahan gambut oleh korporasi besar dan memastikan tata kelola lahan berorientasi pada perlindungan ekosistem serta keselamatan masyarakat, terutama kelompok rentan yang terpapar kabut asap.















