Sumbawanews.com,- Uni Emirat Arab (UEA) memberlakukan embargo perdagangan tanpa batas waktu terhadap Iran setelah menuduh negara itu meluncurkan dua rudal balistik ke wilayahnya pada Selasa (18/8/2026). Kementerian Luar Negeri UEA menyatakan seluruh kegiatan perdagangan, transaksi komersial, dan keuangan dengan Iran dihentikan hingga pemberitahuan lebih lanjut. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap ancaman terhadap keamanan maritim dan perdamaian kawasan, setelah satu rudal jatuh di perairan UEA dan yang lainnya di luar wilayahnya. Iran membantah tuduhan tersebut, menilainya sebagai operasi bendera palsu yang dimaksudkan untuk memperburuk situasi di tengah tekanan dari Amerika Serikat dan Israel.
Serangan rudal itu terjadi sehari setelah tenggat 60 hari perundingan damai antara AS dan Iran berakhir tanpa kesepakatan. Dalam enam pekan pertama konflik, Iran telah menembakkan lebih dari 530 rudal balistik, puluhan rudal jelajah, dan lebih dari 2.200 drone ke aset-aset yang diklaim sebagai milik AS. Embargo UEA sangat signifikan karena Dubai, khususnya Pelabuhan Jebel Ali, selama ini menjadi pintu masuk utama barang dan jasa Iran, mengungguli China dan Turki—dengan sekitar sepertiga impor Iran melewati jalur ini. Mark Kimmitt, pensiunan jenderal AS, menyatakan embargo ini bahkan lebih berdampak daripada sanksi yang diberlakukan AS, karena menutup salah satu saluran keuangan dan logistik paling vital bagi Iran.
Iran menolak tuduhan UEA sebagai tidak berdasar dan meminta negara-negara kawasan tidak terprovokasi oleh narasi yang diklaimnya dipicu oleh AS dan Israel. Sementara itu, AS masih mempertahankan blokade maritim terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, sementara Presiden Donald Trump terus menekan Teheran melalui tekanan ekonomi. Kimmitt memperkirakan negara-negara Teluk lainnya kemungkinan akan menunggu sebelum mengikuti langkah UEA, meskipun serangan dari Iran berlanjut. Ia membandingkan dampak embargo ini hampir setara dengan embargo total AS terhadap Jepang pasca-Perang Dunia II.















