Sumbawanews.com,- Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menyiapkan strategi perang ofensif yang akan diterapkan jika Amerika Serikat gagal memenuhi syarat-syarat yang ditetapkan Teheran. Penasihat Khamenei, Mohammad Mokhber, mengungkapkan bahwa kebijakan baru ini menggantikan pendekatan defensif sebelumnya, di mana Iran hanya membalas serangan. Mokhber menegaskan dalam unggahan di X bahwa strategi definitif Pemimpin Tertinggi adalah beralih ke serangan prematif jika tuntutan Iran tidak dipenuhi.
Mokhber juga menyoroti kegagalan AS dalam melindungi sekutu di Teluk, yang menurutnya membuktikan keterbatasan jaminan keamanan dari Washington. Ia menekankan bahwa fondasi tatanan kawasan baru harus berbasis mekanisme keamanan Selat Hormuz yang sepenuhnya bebas dari pengaruh AS. Pernyataan ini sejalan dengan upaya Iran dalam negosiasi dengan Oman untuk mengatur navigasi komersial di selat strategis itu.
Sementara itu, Ebrahim Azizi, ketua Komisi Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Nasional Parlemen Iran, memperingatkan negara-negara kawasan agar tidak bergantung pada “musuh-musuh Islam”, karena ketergantungan semacam itu akan membahayakan kedaulatan dan memicu respons tegas dari Iran. Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya juga membantah klaim AS tentang kebebasan navigasi di Selat Hormuz, menyatakan bahwa seluruh lalu lintas maritim di wilayah itu tetap berada di bawah kendali penuh Angkatan Bersenjata Iran, dan tidak ada kapal yang bisa lewat tanpa otorisasi Teheran.
Pernyataan ini muncul dalam konteks kekuatan militer Iran yang diklaim masih menyimpan 75 persen stok rudalnya, meski menghadapi serangan intensif sebelumnya.















