Sumbawanews.com,- Pascakegagalan telak di Piala AFF 2026, pengamat sepak bola nasional Abdul Haris atau Bung Ais mengungkap lima akar masalah mendasar yang menghantam Timnas Indonesia. Dalam wawancara eksklusif di YouTube Okezone Official, ia menilai kekalahan tim Garuda bukan semata karena kualitas pemain, melainkan kegagalan strategis pelatih John Herdman dalam memahami dinamika sepak bola Asia Tenggara, ketiadaan rencana cadangan, defensif rapuh, seleksi pemain tidak taktis, dan runtuhnya mentalitas bertanding.
Bung Ais menyoroti bahwa sebelum turnamen, Timnas Indonesia menunjukkan performa mengesankan dalam empat laga uji coba FIFA Matchday, mencetak delapan gol dan hanya kebobolan satu lewat penalti. Namun, di AFF 2026, pola serang monoton yang mengandalkan umpan lambung ke Mitchell Baker mudah dibaca lawan, tanpa ada alternatif saat strategi utama gagal. Kekalahan 0-3 dari Vietnam menjadi puncak kegagalan, di mana pertahanan gagal menahan serangan balik sayap, sebuah kelemahan yang sudah terlihat sejak laga melawan Timor-Leste.
Ia juga mengecam manajemen pertandingan di pinggir lapangan yang terlalu lamban, dengan pergantian pemain yang sering datang terlambat saat tim sudah kehilangan ritme. Komposisi skuad dinilai tidak seimbang, dengan pemain berpengalaman seperti Ricky Kambuaya, Adam Alis, dan Teja Paku Alam diabaikan padahal profil mereka sangat dibutuhkan saat tim kebuntuan. Selain itu, kedalaman tim tidak merata, membuat kualitas pemain pengganti sering jauh di bawah level starter.
Faktor paling mengkhawatirkan, menurut Bung Ais, adalah runtuhnya mentalitas saat tertinggal. Timnas Indonesia kehilangan semangat juang, mudah panik, dan kerap membuat kesalahan individu di lini belakang yang memperparah kekalahan. “Persoalan terbesar bukan pada kualitas pemain, tapi pada pengelolaan dan kepemimpinan taktis yang salah dari pelatih,” tegasnya.
Dengan FIFA ASEAN Cup 2026 yang akan digelar pada September mendatang, kelima poin ini menjadi pekerjaan rumah mendesak yang harus segera ditangani. Tanpa perubahan mendasar, harapan meraih hasil memuaskan di ajang berikutnya akan tetap menjadi mimpi belaka.















