Sumbawanews.com,- Manajemen Bhayangkara FC resmi melepaskan pelatih Paul Munster pada Selasa, 11 Agustus 2026, hanya beberapa pekan menjelang dimulainya musim Super League 2026-2027. Keputusan ini mengejutkan publik, mengingat pelatih asal Irlandia Utara itu baru saja membawa tim promosi finis di peringkat kelima klasemen akhir musim 2025-2026 dengan 53 poin dari 34 laga, mengungguli Malut United FC dan Dewa United Banten FC yang mengumpulkan poin sama. Munster, yang sempat membagikan rasa bangganya atas pencapaian tim lewat akun Instagram pribadinya—termasuk enam kemenangan beruntun dan nominasi Pelatih Terbaik—tak pernah memberi sinyal akan meninggalkan klub, bahkan setelah skuad The Guardian mulai latihan pramusim sejak 23 Juli lalu.
Prestasi Munster bersama Bhayangkara FC di musim lalu dianggap sebagai salah satu kisah sukses terbesar dalam sejarah klub. Dengan modal tim yang baru promosi, ia mampu membangun struktur permainan yang solid, memaksimalkan potensi pemain seperti Moussa Sidibe, dan menempatkan tim di papan atas klasemen tanpa mengandalkan bintang-bintang mahal. Nominasinya sebagai Coach of the Year menjadi bukti pengakuan luas atas kerja kerasnya. Namun, tanpa penjelasan resmi mengenai alasan pemecatan, spekulasi pun bermunculan di kalangan suporter dan analis sepak bola.
Pemecatan ini membuat Bhayangkara FC menjadi tim pertama di Super League 2026-2027 yang mengganti pelatih menjelang kick-off. Sementara itu, klub masih belum mengumumkan pengganti Munster, meski sejumlah nama seperti Bernardo Tavares—pelatih yang pernah membawa PSM Makassar juara Liga Indonesia 2022-2023—disebut-sebut sebagai kandidat kuat. Dengan rekrutmen striker Milan Ristovski dari Makedonia Utara yang sudah dikonfirmasi pada Juli lalu, manajemen kini dihadapkan pada tekanan besar untuk segera menentukan arah strategis baru agar target finis empat besar tetap tercapai.
Munster, yang sebelumnya sukses membimbing Persebaya Surabaya, kini kembali menjadi pelatih yang dicari pasca keberhasilannya di Bhayangkara FC. Keputusan klub ini menjadi bahan perdebatan hangat: apakah ini langkah berani untuk membangun era baru, atau kesalahan strategis yang bisa meruntuhkan momentum yang baru saja dibangun?















