Home Berita Olah Raga Ismed Sofyan dan Greg Nwokolo Soroti Lemahnya Kompetisi Usia Dini di Sepak...

Ismed Sofyan dan Greg Nwokolo Soroti Lemahnya Kompetisi Usia Dini di Sepak Bola Indonesia

Sumbawanews.com,- Jakarta, 3 Agustus 2026 — Legenda sepak bola Indonesia Ismed Sofyan dan Greg Nwokolo mengungkapkan kritik tajam terhadap sistem pembinaan pemain muda di Indonesia saat peluncuran Rajawali Junior League (RJL) 2026 di Sport Center Kelapa Dua, Tangerang, Senin (3/8). Keduanya menekankan bahwa banyaknya akademi dan sekolah sepak bola tidak cukup tanpa kompetisi berkelanjutan yang menjadi fondasi pengembangan karakter dan keterampilan anak-anak.

RJL 2026, yang digelar pada 29–30 Agustus mendatang, diikuti 48 tim dari kategori U-10 dan U-13, dengan tema “Belajar, Berkompetisi, dan Tumbuh Bersama”. Ismed Sofyan, mantan pemain Timnas dan Persija Jakarta, menegaskan bahwa tanpa ajang kompetisi yang rutin, bakat-bakat muda hanya berhenti di latihan harian tanpa kesempatan menguji diri dalam tekanan pertandingan. “Banyak SSB dan akademi, tetapi kompetisi menjadi pondasi agar mereka berkembang. Di situ mereka belajar tanggung jawab, disiplin, fair play, dan respek. Itu yang menjadi bekal mereka ke depan,” ujarnya.

Ia pun membagikan pengalaman pribadi: pernah gagal masuk tim seleksi, tapi justru menjadikannya motivasi untuk berlatih lebih keras hingga akhirnya dipercaya sebagai kapten. “Kegagalan harus dijadikan batu loncatan, bukan alasan untuk menyerah,” tegasnya.

Sementara itu, Greg Nwokolo, eks penyerang Timnas yang tumbuh dari street football di Nigeria, menyoroti bahaya membebani anak-anak dengan target dan taktik berlebihan sejak dini. “Di usia muda, biarkan anak-anak menikmati sepak bola. Jangan kasih beban yang berlebihan. Mereka harus senang dulu bermain sepak bola, baru nanti berkembang secara bertahap,” ujar Greg. Ia mencontohkan bagaimana keterbatasan fasilitas di masa kecilnya justru membentuk ketangguhan dan semangat belajar yang tak pernah padam.

Keduanya sepakat bahwa pembinaan sepak bola Indonesia perlu kembali ke akar: fokus pada proses, bukan hasil instan. Peluncuran RJL 2026 diharapkan menjadi contoh nyata bahwa kompetisi usia dini bukan sekadar turnamen, tapi ruang hidup bagi generasi emas masa depan.

Previous articleRagnar dan Jordi Diturunkan, Timnas Indonesia Siap Hadapi Vietnam di Pakansari
Next articleLanud Sjamsudin Noor Tebar Manfaat di Hari Bakti ke-79 TNI AU Tahun 2026, Ribuan Warga Kalsel Nikmati Layanan Kesehatan Gratis dan Bazar UMKM Murah