Sumbawanews.com,- Konfederasi Sepakbola Amerika Tengah, Utara, dan Karibia (CONCACAF) secara tegas mengecam gaya kepemimpinan Presiden FIFA Gianni Infantino, menyebutnya sebagai “ugal-ugalan”, sepihak, dan melanggar prinsip tata kelola yang sehat. Pernyataan keras ini muncul setelah 41 asosiasi anggota CONCACAF bersatu menolak usulan FIFA Forward Enterprise (FFE), proyek yang dirancang Infantino tanpa konsultasi atau transparansi terhadap federasi-federasi anggota. Dalam pernyataan resminya, CONCACAF menilai usulan tersebut sebagai bukti nyata bahwa kepemimpinan Infantino telah berhenti mengutamakan kepentingan sepakbola global, dan menuntut reformasi menyeluruh—bahkan mengisyaratkan kebutuhan akan penggantian pemimpin FIFA menjelang Kongres 2027.
CONCACAF menegaskan bahwa penarikan usulan FFE bukan kebetulan, melainkan hasil dari kesadaran kolektif para anggota yang menolak keputusan yang dibuat di luar kerangka tata kelola FIFA yang sudah ditetapkan. “Peristiwa beberapa hari terakhir telah mengungkap sesuatu yang tak dapat diabaikan: masa depan Piala Dunia, aset terbesar sepakbola dunia, telah dirancang tanpa transparansi, tanpa konsultasi, tanpa proses yang semestinya,” tegas konfederasi itu. Mereka juga memuji persatuan 41 anggotanya yang berani bersuara, menyebutnya sebagai kemenangan atas prinsip-prinsip tata kelola yang baik dan kepentingan jangka panjang sepakbola.
Tidak hanya CONCACAF, UEFA, AFC, dan CONMEBOL juga menolak keras rencana penjualan saham Piala Dunia yang diusulkan Infantino. Proyek ini dinilai sebagai upaya memaksakan kehendak dengan mengiming-imingi dana dan memberi tenggat waktu sempit, tanpa membuka ruang dialog. Kritik terhadap Infantino kini semakin menguat, terutama setelah sejumlah penasihat senior FIFA mundur dan para pemimpin konfederasi besar mulai membuka ruang bagi calon pengganti, termasuk Presiden CONCACAF Victor Montagliani yang disebut sebagai calon kuat dalam pemilihan presiden FIFA tahun depan.
Dengan suara bulat dari empat konfederasi utama dunia yang menolak kebijakan sepihaknya, Infantino kini berada di titik terendah popularitasnya. Konfederasi-konfederasi itu tidak lagi hanya menolak proyek tertentu, tetapi menuntut perubahan sistemik dalam kepemimpinan FIFA—mengisyaratkan bahwa masa depan organisasi sepakbola terbesar di dunia tidak lagi bisa dipercayakan hanya pada satu orang.















