Sumbawanews.com,- Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengungkap bahwa fenomena El Nino 2026 telah aktif dan diprediksi mencapai level sangat kuat, berpotensi memperpanjang musim kemarau dan memicu kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan di sebagian besar wilayah Indonesia. Pernyataan ini disampaikan dalam rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 28 Juli 2026. BMKG memperkirakan puncak kemarau terjadi pada Agustus 2026, dengan risiko karhutla meningkat signifikan dari Juli hingga September, terutama di Sumatera dan Kalimantan.
Faisal menjelaskan, El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di tengah Samudra Pasifik naik lebih dari 0,5 derajat Celsius, dan kondisi saat ini telah melampaui ambang batas itu. Ia menambahkan, Indian Ocean Dipole (IOD) masih netral, tetapi diprediksi berubah menjadi fase positif pada September hingga Desember 2026, yang dapat memperparah ketidakseimbangan curah hujan. Lima provinsi prioritas—Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi—akan mendapat intensifikasi pemantauan karena tingkat risiko kebakaran tertinggi.
Mitigasi nasional difokuskan pada dua hal: menjaga ketersediaan air melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) dan mencegah karhutla dengan pembasahan lahan gambut. OMC dilakukan secara berbasis data, memanfaatkan informasi meteorologi, tinggi muka air tanah, dan pemantauan hotspot. Salah satu upaya strategis adalah menjaga tinggi muka air di Danau Toba untuk mendukung irigasi, air bersih, dan pembangkit listrik tenaga air. BMKG juga mendorong penguatan sekat kanal, patroli terpadu, dan penegakan hukum terhadap pembakaran lahan.
Di sektor kesehatan, BMKG merekomendasikan pemantauan kualitas udara berbasis konsentrasi PM2.5, penguatan fasilitas kesehatan, dan antisipasi lonjakan kasus ISPA. Di sektor pangan, dianjurkan percepatan waktu tanam, penggunaan varietas tanaman genjah, dan prioritas distribusi air pada fase kritis pertumbuhan. Untuk sektor ekonomi, BMKG menekankan pentingnya perencanaan inflasi pangan berbasis prediksi iklim dan koordinasi kebijakan ketahanan pangan. Di sektor energi, pengelolaan waduk harus mengacu pada prediksi cuaca, dengan diversifikasi sumber energi melalui optimalisasi PLTG, PLTU, serta pemanfaatan energi surya dan angin.
BMKG juga menegaskan bahwa persiapan menghadapi El Nino tidak hanya fokus pada kekeringan dan karhutla, tetapi juga menjadi bagian dari antisipasi bencana hidrometeorologi basah yang berpotensi muncul menjelang akhir tahun, seperti siklon tropis.















